Jumat, 12 Maret 2010

Yang Pernah Ada

HUJAN gerimis turun sejak pagi tiada henti. Langit tertutup awan hitam. Tidak ada awan-awan putih berarak menghiasi langit biru. Yang ada hanyalah tetes-tetes air yang menciptakan suara berisik di atap rumah. Angin berhembus dingin menusuk tulang.
Aku duduk sendirian di dalam kamar ini. Terasa begitu membosankan. Dan aku hanya bisa duduk bertopang dagu di depan jendela. Hanya bisa memandang genangan-genangan air yang mulai terbentuk. Atau memandang anak-anak kecil yang asyik bermain air. Hanya bisa menjadi penonton, mungkin sampai hujan berhenti nanti.
Sehelai daun kering yang sekarang sudah agak basah oleh air hujan melayang di depan mataku. Perlahan-lahan ditingkah hembusan angin. Kupandangu sampai daun itu menyentuh tanah dan tergolek pasrah. Tiba-tiba aku ingin membuka kembali kenangan-kenangan yang pernah aku buat bersama orang-orang yang aku kenal, terutama kamu, Ega.
Ega. Nama yang akrab di telingaku. Sampai kapan pun tidak akan aku lupakan. Kamu satu-satunya cowok yang telah memberiku sebuah persahabatan yang tulus. Kamu lain dengan mereka, Ga. Sampai akhirnya aku bisa mengerti apa arti persahabatan itu bagi kita.
Awal aku mengenalmu adalah di sekolah, temoat kita belajar bersama. Kamu yang nakal dengan rambut agak gondrong, sableng, dan suka berkelahi. Kamu suka sekali menarik-narik kuncir rambutku. Iya kan, Ga? Kamu jua yang paling berani menempelkan permen karet di kursi guru, sehingga kamu di-skors tiga hari. Kamu memang badung, Ga!
Pernah kamu menyembunyikan Diktat Kimia milikku. Dan gara-gara ulahmu aku dihukum di depan kelas. Sedangkan kamu? Kamu cuma memamerkan barisan gigimu yang putih itu. Waktu itu aku sebal sekali melihat tingkahmu.
“Ega brengsek!” umpatku saat jam istirahat.
“Aduh, anak manis! Jangan nangis. Nanti Kakak belikan permen, ya? Atau es krim?” Kamu cengar-cengir, menyebalkan.
“Ega!!”
“Iya, ada apa, Sayang?”
“Kamu… pokoknya aku benci Ega!” teriakku dengan kesal.
“Oke, mau berapa minggu?” Dengan kalem kamu malah menantangku. Akhirnya aku memilih diam. Kamu tahu aku paling nggak tahan diam lama-lama sama kamu. Dan kamu semakin nakal, terutama kepadaku. Bukannya aku benci kamu, hanya saja sikapmu kadang membuat aku jengkel setengah mati.
Di balik itu, aku tahu kamu anak yang baik sebenarnya. Kamu punya rasa setiakawan yang tinggi di antara teman-teman satu geng. Kamu pun bisa menjaga kekompakan bersama mereka. Kamu ingat, Ga? Kamu pernah menolongku dari gangguang anak-anak berandalan. Padahal saat itu kita baru saja bertengkar karena kamu menarik kuncir rambutku terlalu kencang sehingga pengikatnya lepas.
Kamu sendirian, sedangkan mereka empat orang. Tapi kamu berusaha bertahan walau tubuhmu babak belur. Dan kamu tentu ingat, betapa histerisnya aku saat rahangmu terkena pukulan salah seorang dari mereka. Bibirmu pecah dan berdarah, Ga. Aku hanya bisa menangis. Untunglah bantuan segera datang. Teman-temanmu membantu dan anak berandalan itu langsung kabur. Ega, aku akui kalau kamu memang sahabat yang baik.
Sejak itu kamu tidak nakal lagi. Kamu menjadi cowok yang kalem. Mungkin karena kamu tekah diberi kuliah panjang lebar oleh bapak kepsek gara-gara perkelahian itu. Ingat dengan janji itu? Janji yang au ucapkan dengan lantang di depanku. Kamu berjanji akan melindungi dan juga menjagaku walau bertaruh nyawa. Aku tertawa mendengar itu, tapi mimik mukamu begitu serius. Aku hanya bisa angkat bahu.
“Fris, ikut kemping, yuk!” ajakmu suatu kali. Anak-anak Pecinta Alam memang akan mengadakan kemping dan kebetulan kamu ikut di sana.
“Tapi nggak ada lampu hijau dari mama, Ga!”
“Santai aja. Biarkan aku ngomong dan kamu akan bisa berangkat!”
“Emang bisa?” tanyaku ragu. Kamu tertawa sambil menepuk-nepuk dada. Kamu yakin dengan kemampuanmu. Dan ternyata berhasil! Aku sampai heran mengapa mama bisa percaya sama orang macam kamu. Entah jurus dan jampi-jampi apa yang kamu pakai. Sampai kini pun aku tetap tidak tahu.
Kamu telah membawaku ke dunia remaja yang memang seharusnya aku nikmati. Bersamamu aku bisa tertawa meski hatiku sedang gundah. Hanya kamu yang mampu membuatku tersenyum dengan segala tingkahmu yang konyol dan kocak.
Kamu ingat kan, Ga? Saat kita main petak umpet, kamu bersembunyi di kloset. Lantai yang licin membuatmu terpeleset. Seketika kamu menjerit ketika kaki kirimu masuk ke dalam kloset yang baunya minta ampun. Ternyata kamu juga anak yang ceroboh!
Tapi menjelang satu tahun usia persahabatan kita, kamu menghilang. Kamu tidak pernah bicara apa-apa. Tentang pindah sekolah atau pun berhenti sekolah. kamu juga tidak menitipkan surat yang sapat aku jadikan petunjuk ke mana kamu perhi, apalagi mengucapkan selamat tinggal. Kamu tega sekali, Ga!
Aku mencarimu ke mana-mana. Aku cari ke rumahmu, semua tetanggamu mengatakan kalau keluargamu sudah pindah. Entah ke mana.
Sampai akhirnya aku mendengar kabar dari teman se-geng-mu. Katanya kamu pergi dari rumah. Kamu telah menjadi korban broken home. Dan kamu memilih jalan sendiri daripada ikut salah satu orang tuamu. Kamu punya prinsip. Tapi tak masuk di akal, Ga! Apa yang dapat kamu lakukan hanya dengan pendidikan SMU yang tertunda? Apa, Ga? Kamu benar-benar bodoh!
Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya menyesalkan tindakanmu yang bodoh itu. Aku hanya bisa berdoa agar kamu selalu diberi keselamatan oleh-Nya dan tidak melupakan tali persahabatan kita. Terlalu indah, Ga. Setidaknya kamu ingat bahwa kamu pernah mendengar ada seorang gadis bernama Friska.
Kapan-kapan kembalilah ke sini, ke kota yang indah ini. Aku ingin mendengar tawa lepas seorang Ega dengan segala tingkah polahnya yang konyol. Andai kamu tahu…
Aku mendesah perlahan. Hembusan angin semakin keras. Dahan-dahan pepohonan bergoyang-goyang. Gerimis itu telah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Anak-anak itu pun sudah tidak ada lagi. Dengan enggan kututup daun jendela. Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan. Mataku nanar menatap langit-langit kamar. Di sudut hatiku ada kerinduan pada seorang sahabat yang entah di mana.
Ega.
Nama itu kembali terngiang-ngiang di telingaku.

* * *

Harvest Fan Club no. 108/ 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar