Sabtu, 13 Maret 2010

Dalam Kegelapan Malam

NAPASNYA terengah-engah. Jalan menanjak dan berbatu itu bak tak ada ujung. Angin malam berputar tak ramah, membuatnya menggigil kedinginan. Bulan sabit menggantung di langit barat dalam kebisuan tak terbatas.
Sunyi. Senyap. Gelap.
Gadis itu berpaling ke belakang beberapa kali, penuh rasa bimbang dan takut. Ia telah terperangkap dalam keterasingan.
Sekali lagi ia berpaling ke belakang. Semoga dia tidak di sini…
Ia berpaling lagi. Gelap. Pekat…
Tiba-tiba bayangan hitam itu sudah berdiri di depan matanya, mengembangkan sayapnya yang lebar, mengeluarkan desisannya yang haus darah, dan siap menancapkan taring-taringnya yang tajam…
“Waaa… aaaaa!!!” Ira menutup wajahnya dengan kengerian yang teramat sangat. “Matikan tevenya! Matikan! Aku nggak tahan!” serunya.
Delia tergelak. “Bah, kelas dua es-em-u masih penakut,” ejeknya.
“Matiin! Aku nggak mau nonton lagi! Besok balikin kasetnya!” Ira semakin mengkeret di sofa. “Kamu aja yang nonton. Ceritain terakhirnya gimana, ya?” pinta Ira.
“Nggak usah, ya!” Delia mematikan teve lalu membuka kulkas dan mencomot sebatang Silver Queen dari freezer. “Punya siapa?”
“Eh, punyaku!” Ira meloncat dari sofa dan merebut coklat di tangan kakaknya itu.
“Nanti aku ganti. Sumpah! Ayo, minta setengah aja…”
“Nggak!!!”
“Pelit!!!”

Ira mengembangkan payungnya. Hujan yang turun sejak pukul lima pagi masih lumayan deras. Berkali-kali terdengar suara guntur membelah langit. Ira mempercepat ayunan kakinya. Ia hanya punya tiga menit sebelum kelas dimulai.
JEDUUKK!! GUBRAAKK!!
Ira terjengkang. Gadis itu terjatuh dalam posisi duduk. Payungnya terlempar ke samping. Ia tidak melihat tiang listrik yang berdiri gagah di hadapannya. Saat mengambil payung, Ira baru sadar kalau orang di belakangnya juga ikut terjatuh.
“Aduh, maaf, maaf… aku nggak sengaja!”
Cowok itu mengangkat wajahnya. Poni rambutnya yang panjang menjuntai menutupi sebagian dahinya. Cowok itu meringis geli. “Hebat, ya? Tiang listrik dilawan!”
“Haryo? Tumben jam segini masih di jalan. Bangun kesiangan?”
Haryo bangkit seraya menggosok-gosok celananya. “He-eh. Wah, basah! Padahal baru diambil dari loundry, nih! Eh, ikut payungan, dong!”
“Sudah bawa payung sendiri gitu…”
“Belum mandi, ya?”
“Apa hubungannya?”
“Ya, bau dong!” Haryo tertawa.
Ira paling senang melihat cowok satu ini tertawa. Matanya yang agak sipit seakan menjadi satu garis lurus. Lucu. Dan doi adalah cowok yang sangat baik hati. Sejak pertama Ira mengenalnya, di kelas satu es-em-u, ia selalu memperhatikan cowok itu. Saat kerja kelompok, conversation club, atau di kelas. Dan Ira boleh gembira, karena sampai sekarang pun Haryo belum punya pacar.
“O ya, kamu jadi ikut Welcome Party 2001, kan?”
Ira tercenung sejenak. “Ngg, gimana, ya…”
“Kok, jadi ragu gitu? Padahal minggu lalu kamu yang paling antusias mau ikut.”
“Soalnya, waktu itu aku… aku belum nonton film itu…”
“Film? Film apa?” tanya Haryo heran.
“Horor… aku takut,” jawab Ira lirih. Kembali melintas di kepalanya bayang-bayang hitam itu. Dengan sayapnya yang lebar… hiiihh!! Ira bergidik.
Haryo melingkarkan tangannya di bahu Ira. “Tenang, aku bisa diandalkan, kok. Drakula nggak bakalan berani ngedeketin kamu. Percaya, deh! Ikut, ya?”
Ira mencuri pandang cowok di sebelahnya itu. Seandainya kamu mengatakan itu sebagai pacarku, Yo… Ah, Ira mendesah lirih.

“Mau ke mana?”
“Kemping,” sahut Ira singkat. Tangannya sibuk menata baju dan makanan di dalam tas ransel. “Ikut?”
Delia manggut-manggut. “Kalo di hutan biasanya banyak sesuatu yang berkeliaran deh, kayaknya…” Delia menekankan pada kata ‘sesuatu’ sambil menggerakkan kedua telunjuknya membentuk tanda koma.
Ira melotot. Ia merasa kakaknya selalu usil.
Delia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, “saat kamu lengah… ia datang dari kegelapan, mengurungmu dalam kesunyian tak berujung, kemudian menancapkan taring-taringnya yang tajam dan menghisap setiap tetes darahmu… sampai mengering!”
“Delia, hentikan!! Jahat!” jerit Ira sebal. “Selama ada Haryo, aku pasti berani!”
Delia hanya angkat bahu.
“Bilang aja kamu sirik, sampai sekarang nggak ada yang naksir!”
“Weee, banyak tuh yang antre!”
“Penagih utang semua! Basi!”

Dua hari terlewati di bumi perkemahan itu.
Ira tak henti-hentinya berdoa semoga malam cepat berganti pagi. Ia sudah tidak kuat, terutama dengan udara dingin yang selalu menyiksa perut dan tangannya.
“Yo, pulangnya kapan? Aku nggak tahan, dinnggiiin…” Ira melirik jam tangannya. Jarumnya menunjuk angka dua dini hari. Pantesan dingin banget, keluh Ira.
“Sshh, besok pagi kita sudah bongkar tenda. Malam ini acara terakhir,” bisik Haryo.
Ira mengeluh panjang. Caraka Malam… tanpa sadar Ira menggigil.
“Jaketmu kurang hangat, ya? Tangan kamu kayak es.” Haryo menggenggam tangan Ira. Cowok itu melepas jaketnya. “Pakai ini, ya? Lebih tebal!” Dengan hati-hati Haryo memakaikan jaketnya ke Ira.
Ira terpaku. Haryo sangaaaatt baik. Sejenak ia melupakan bayangan menakutkan itu.
“Ayo, panitia berkumpul!!” seru Deni, ketupat Welcome Party 2001.
“Kamu ikut, ya? Nanti aku minta biar kamu satu pos sama aku.”
“Oke, pos akan dibagi menjadi empat. Ditambah dua pos bayangan. Tiap pos dijaga oleh dua orang. Kecuali pos dua dan tiga dijaga empat orang, karena nanti di sana agak berat, yang dua dari sie kesehatan. Tiga orang sebagai sweeper. Pembagian sebagai berikut, Ryan dan Meli ada di pos pertama. Sedangkan pos kedua dijaga…”
Pembagian tugas terus berlanjut. Yang sudah mengerti tugasnya segera menyiapkan perlengkapan yang sekiranya perlu dibawa, termasuk obat-obatan.
“Berangkat, Ra. Kita di pos empat, pos terakhir!” ajak Haryo pada Ira yang masih sibuk merapatkan jaketnya. “Jangan lupa sentermu. Tolong dong, sarungku itu. Ya, yang itu, yang hitam!”
Pos empat ada di balik pohon besar dengan semaknya yang merimbun dan tidak terlalu jauh dari base camp. Ira bisa sedikit bernapas lega.
“Masih dingin?” tanya Haryo. Dituntunnya Ira agar duduk nyaman di sebelahnya. “Kamu nggak pernah ikut kemping, ya?”
Ira mengangguk tanpa suara. Giginya gemeletuk menahan dinginnya.
“Jangan diam aja, dong. Kita bisa ngobrol apa aja, biar nggak ngantuk. Jangan melamun, Ra. Bahaya!”
“Dingiiinn…nnn, tau!” Cewek itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Aku sebenarnya nggak tega ngajak kamu ke sini. Tapi… ngg…”
“Ssshhh… kkeeenaa… ppaa, Yo?”
“Anu, aku ke belakang dulu, ya? Kebelet, nih!”
“Yo? Jang… jangan ninggalin aku sendirian begini, dong!”
“Sebentar aja, kok!”
“Yo!!”
Tapi Haryo sudah menghilang di balik pepohonan. Ira terpekur menatap kegelapan. Oh, Tuhan… tiba-tiba saja aku rindu terangnya lampu kota. Pada ramainya suara radio tetangga yang aku anggap norak karena selalu memutar lagu dangdut. Pada ceriwisnya mulut si Delia. Tidak terjebak dalam kepekatan seperti ini. Dingin pula.
Ira menerangi jam tangannya. Sudah sepuluh menit berlalu namun Haryo belum balik juga. Ira mulai merasa ngeri.
“Aduh, Haryo… kamu lagi ngapain? Pipis apa mandi, sih? Cepetan balik…”
“Saat kamu lengah, ia akan datang dari kegelapan, mengurungmu dalam kesunyian melam, menancapkan taring-taringnya yang tajam dan menghisap setiap tetes darahmu…”
Ira mengedarkan pandangannya. Kalimat-kalimat dari Delia kembali memenuhi kepalanya. Memicu ketakutan itu muncul lagi. Membuat tengkuknya meremang.
“Haryooo… lama banget…”
Terdengar suara gemerisik semak di belakang Ira. Cewek itu melompat dari duduknya. Senternya menggelinding entah ke mana. Matanya melotot.
“Ap-apa… apa? Si… siapppaa di situ?!”
Gelap. Sunyi. Dan senyap.
Gemerisik itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Semak-semak rimbun dan tinggi itu bergoyang-goyang. Lutut Ira bergetar. Ia ingin lari. Namun telapak kakinya terasa ditahan ribuan paku.
Angin tiba-tiba menderu. Burung hantu mulai mengeluarkan suaranya.
Semak-semak semakin bergoyang. Lalu terkuak perlahan…
Ira menahan napas. Kerongkongannya tercekik. Sayap kelam lebar itu berkibar di hadapannya. Dia mendatangiku!!! Dia akan memangsaku!!!
“Ira…??”
“Waaa…aaa!!!!” Tubuh Ira lunglai dan jatuh ke tanah. Ia tidak ingat apa-apa lagi.

Ira menggerakkan buku-buku jarinya. Ribut sekali, sih? pikirnya. Seperti pasar malam. Kepalanya terasa sakit, terutama bagian belakang. Rasanya senut-senut.
Aku ada di mana? Ini surga apa neraka?
“Tanggung jawab, dong! Kamu tuh, yang bikin dia pingsan!”
“Aku nggak bermaksud mengejutkan dia. Sumpah!”
“Bikin dia sadar, Yo! Ayo, kasih napas buatan!”
“Yeee, memang dia tenggelam?”
“Ya, sudah. Kasih ciuman pangeran, biar putri tidurnya bangun!”
“Cium! Cium! Cium!”
“Hei, hei, kalian jangan sembarangan!”
Ira menggoyang-goyangkan kepalanya. Pening sekali. Perlahan ia membuka mata. “Aduh, ada apa… ribut sekali? Waaa…!! Haryo?!”
Tepat saat Haryo menundukkan kepala di bawah paksaan teman-temannya. Ira menjerit tertahan karena wajah Haryo hanya tinggal beberapa senti saja di depan hidungnya.
Haryo tersentak bukan kepalang. Pipinya kontan memerah. “Ira? Sudah sadar, ya?” katanya buru-buru. Terdengar koor penyesalan dari belakang Haryo.
“Haryo kurang ajar! Mau apa kamu?” bentak Ira gusar.
Haryo memasang wajah memelas. “Ma-maaf, kamu pingsan karena aku. Aku nggak nyangka ternyata jadi kayak gini. Mau maafin aku kan?” mohonnya.
Ira melunak. “Aku maafkan. Eh, tadi itu mau ngapain?”
Haryo salah tingkah.

* * *

Majalah Cerpen Cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar