Sabtu, 13 Maret 2010

Andai Aku Masih Boleh...

“SEPERTI kucing!”
Aku mendongak, mendapati sepasang mata tajam itu sedang menatapku, seolah-olah ingin menelanjangi seluruh isi kepalaku.
“Seperti kucing!” ulangnya.
“Untuk alasan apa kamu sebut aku begitu?”
Bibirnya menyeringai tipis.
“Karena aku suka ikan asin?” tebakku.
Ia menggeleng. “Mitos, kucing punya sembilan nyawa. Mati satu masih ada delapan nyawa cadangan lainnya. Sedangkan kamu, kamu punya sembilan kesempatan. Pulang kampung tiap libur semester. Hilang satu kesempatan, masih ada delapan lainnya. Kenapa tidak kau buang saja untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik?”
“Tidak ada yang lebih baik!” Aku mulai gusar. “Karena aku… aku mencintai Ali!”
“Cih, cinta. Cinta sudah membeli kebebasanmu untuk memilih!”

Biarlah.
Empat setengah tahun yang lalu merupakan awal cerita yang boleh dikatakan indah.
“Aku tidak percaya!”
“Sungguh, lihatlah mataku! Aku selalu menemukan kejujuran di hatimu dengan kedua mataku ini. Sekarang kamu akan mampu menemukan hal yang sama pula di sini!”
Permintaan yang diucapkan dengan romantis. Ali. Setelah enam bulan memendam rasa, tiga bulan melakukan pendekatan, kami pun resmi berpacaran. Dan aku baru sadar kalau Ali termasuk populer karena tak sedikit tatapan iri yang aku terima.
Di tahun terakhir masa perjalanan panjang di SMU, kami mencoba mengukir kenangan selama 365 hari sebelum menanggalkan seragam putih abu-abu itu.
Seperti kucing?
Ahahaha! Sheri sering konyol. Tapi inilah leluconnya yang paling konyol. Apa tidak ada perumpamaan yang lebih manis?
Aku kuliah di Ekonomi sudah hampir lima tahun, karena banyak mata kuliah yang harus aku ulang. Semestinya aku punya sepuluh harapan, bukan sembilan seperti kata Sheri. Namun nyawa pertama sudah aku tukar dengan dua patah kata ‘selamat tinggal’ itu. Saat dimulainya aku didera perasaan bersalah. Sampai sekarang.
“Apa anak kuliahan lebih hebat hingga aku tidak bisa mempertahankan kamu?”
“Tidak. Kamu tetap yang terhebat!”
“Aku bukan calon sarjana.”
“Biar.”
“Aku cuma pekerja bengkel.”
“Biar.”
“Lalu kenapa kita harus putus?”
Karena aku terlalu mencintai kamu. Namun jawaban itu tidak pernah keluar. Pun ketika Ali harus menguncang-guncang bahuku untuk mendengar jawaban. Aku tidak bisa.
Keluargaku termasuk terpandang, yang mempunyai pembantu dan sopir pribadi. Aku kenal semua rekan kerja papa, juga putra mereka yang menjadi pewaris tunggal. Kaya materi, ganteng, dan berpendidikan tinggi, seperti tipe calon menantu mama.
Malangnya, kenapa aku jatuh cinta pada anak sopir papa? Ali tentu saja tidak kaya materi, tidak juga ganteng sekali, dan hanya lulusan SMU. Ali yang sederhana dalam segala hal, bahkan dalam mencintaiku. Tidak peduli dalamnya jurang yang terbentang di antara kami. Tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa jurang itulah yang telah menelanku dari kehidupannya.
Daripada keluarga Ali yang menjadi korban, lebih baik perasaanku yang sakit. Aku tidak tega menerima sorot kehilangannya, tapi aku lebih tidak tega bila melihat keenam adiknya mengais makanan di pinggir jalan karena bapaknya kehilangan pekerjaan.
Semua karena keegoisan mama. Semua demi bibit, bebet, dan bobot.

“Sher, mau kemana?”
Sheri mengerem sepedanya. Suara rem berdecit membuat telingaku ngilu. “Ngapain di situ?” Sheri menunjukku yang sedang bergelayutan di pohon jambu, tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku melorot turun. Selembar daun jambu kering tersangkut di ujung rambutku. Sheri menepiskannya. “Terima kasih. Mau kemana?”
“Jalan-jalan! Pulang kampung tidak bagus mendekam di kolong tempat tidur.”
“Sialan!” umpatku. Aku tahu dia menyindirku. Sudah delapan kali aku pulang, pekerjaan pokokku hanya nonton teve dan bolak-balik ke dapur mengambil camilan. Tanpa pernah sekali pun bertemu Ali.
“Ali jangan dicari. Kalau memang jodoh ketemu sendiri!” lanjut Sheri seperti mengerti jalan pikiranku. “Ikut tidak?”
Akhirnya aku ikut menggenjot sepedaku di belakangnya. Pikirku, daripada tidak ada kerjaan, bosan nonton telenovela cengeng.
“Aku dengar SMU kita direnovasi. Rasanya pengen ke situ, deh!”
Aku tersenyum pahit. Sekolah itu pasti akan mendera kenangan kami kembali. Kelas, lapangan basket, kantin… semuanya pernah ada aku dan Ali. Menuntut ilmu bersama, tertawa bersama…
“Hei! Awas, Nda!”
Aku gelagapan. Sepedaku oleng ke kanan dan menyenggol ban depan sepeda Sheri. Sheri yang ikut kaget tidak mampu menyeimbangkan sepedanya lagi. Bahu kanannya membentur bahuku cukup keras. Aku lupa menarik rem sementara kakiku menggapai-gapai mencari pijakan. Akhirnya kami jatuh tumpang-tindih. Gemercik air terdengar dari bawah. Ternyata kami ada di atas jembatan.
“Gila kamu! Anak kecil tuh!”
Aku bangkit dengan susah payah. Bahuku sedikit nyeri. Ditambah kakiku yang tertindih sepeda Sheri. Lengkaplah deritaku. “Iya, iya, aku tahu! Tapi angkat dulu barang karatanmu ini. Berat tahu?!” balasku. “Ufh, ssshhh, pelan-pelan!”
Anak kecil itu -sekitar berumur tiga tahun- mengawasi tingkah kami dengan gerak bola mata beningnya. Roknya yang kedodoran ternoda lumpur di sana-sini, begitu pula dengan kaosnya yang bergambar Doraemon. Sementara es lilin yang digenggamnya mulai mencair dan menetes lewat sela-sela jarinya.
“Namamu siapa?” tanyaku sambil jongkok di depan anak kecil itu.
“Amanda.”
“Anak ini cantik juga. Pasti bapaknya cakep ya, Sher?” kataku.
“Kenapa mesti bapaknya, sih?” Sheri mengelus-elus rambut Amanda. “Anak sekecil ini dilepas sendirian, tidak takut diculik?”
“Ini di kampung, Non! Kasihan kalau dimintai tebusan. Eh, kayaknya tumben aku lihat anak ini. Apa orang tuanya pendatang baru di sini?”
“Kalau saja ayahmu kepala desa, bukan seorang juragan,” seloroh Sheri.
“Amanda di sini sama siapa?”
“Ayah,” sahut si kecil. Mata beningnya menatap lugu. “Sama ibu juga.”
“O ya? Mana mereka? Nanti Amanda dicariin lho!”
“Ayah ada di sana!” Si kecil menunjuk seorang laki-laki di bawah sana yang membelakangi kami. Capingnya menutupi punggungnya yang setengah membungkuk.
“Manda mau diantar ke tempat ayah? Yuk, Kakak antar ke sana,” tawarku.
Anak kecil itu menggeleng. “Kata ayah, Manda harus menunggu di sini.”
“Udah deh. Pulang yuk!” ajak Sheri. Aku setuju.
“Manda jangan ke mana-mana, ya. Nanti ada orang jahat,” pesanku. Kami berlalu setelah meninggalkan lambaian pada Amanda. Sambil saling menggoda aku dan Sheri menuntun sepeda masing-masing.
“Manda bicara dengan siapa tadi?”
Tengkukku berdesir. Dalam jarak tak sampai lima meter, suara itu kutangkap sangat jelas. Itu… itu bukannya suara Ali? Aku masih hapal. Suara serak-serak basah itu miliknya. Aku menoleh secepat aku bisa. Takut suaranya langsung menghilang, seperti mimpi-mimpiku di ujung malam.
Dan aku hanya bisa terpaku.
Tubuh itu jauh lebih tinggi dan kurus dibandingkan lima tahun lalu. Kulitnya tak lagi putih, tapi gelap terbakar matahari. Garis-garis kedewasaan terpatri jelas di setiap jengkal wajahnya. Dia berubah sangat banyak. Tapi senyumnya masih yang dulu, yang pernah ia berikan untukku.
“Mereka jahat pada Amanda?”
“Tidak. Kakak-kakak itu baik. Ayah mau pulang?”
“Iya. Tuh, ibumu sudah ke sini.”
Seorang wanita muda berkebaya merah muda dan berkemben lusuh dan bertudungkan syal hijau pupus berjalan di sisi mereka sambil menjinjing keranjang bambu. Senyumnya mengembang saat Amanda menggandeng tangannya.
Aku semakin terpaku.

Seminggu berlalu.
“Aku rasa kamu harus membunuh sisa nyawa yang lain,” bisik Sheri.
“Tapi…”
“Masih pakai tapi lagi! Dia bukan lagi kebebasan yang bisa kamu raih kapan saja. Ali sudah terikat, punya tanggung jawab. Dan dia sudah punya Amanda.”
“Aku masih ingin menunggu.”
“Menunggu? Aku tunggu dudamu? Payah!” Sheri mendesah berat. “Aku rasa dia juga ingin menyimpan kenangan bersamamu. Putrinya bernama Amanda. Sama dengan namamu. Tidakkah kau sadari itu?”
Aku tercenung.
“Jangan menodai persahabatan dan kenangan kalian, Nda. Hargailah kehidupannya sekarang. Menyimpan kenangan manis tentang dia adalah cara terbaik untuk mencintai kalau kita tidak bisa memilikinya.
Sekarang dan empat tahun lalu itu berbeda, Nda. Bangunlah dari mimpi panjang, Nda. Sebagai sahabat, aku meminta. Eh, bukan, aku memohon! Bunuh harapan usang itu.”
Aku menangis lirih.
Oh, Tuhan…
Andai aku masih boleh...

* * *

Radar Surabaya, edisi Minggu, 9 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar