“TURUNKAN harga BBM!!!”
“Bangsa kita sudah menderita, kenapa dibikin lebih menderita?!”
“Tidak adakah pemerintahan yang lebih manusiawi dan merakyat?!”
Di bawah sengatan sang surya tepat pukul dua belas, puluhan mahasiswa melakukan aksi demo di bundaran di tengah kota. Dengan harapan suara mereka yang juga menyuarakan suara rakyat miskin didengar oleh mereka yang di atas.
“Wahai pemerintah, dengarkanlah keluhan kami!”
“Lihatlah ke bawah! Jangan enak-enakan duduk di atas!”
Spanduk dan poster dengan tulisan yang lebih banyak mengecam pemerintah berjejer di depan para pendemo. Andaikan mereka bisa bersuara, pasti mereka juga ikut berteriak-teriak.
“Jul, suaramu habis?”
Juli tertawa. “He-em, lumayan, Ko!”sahutnya. “Dua jam teriak-teriak, nih!”
“Tapi rekan-rekan yang lain semangat sekali ya?”
Juli mengangguk-angguk. “Turunkan harga BBM! Hei, ayo yang semangat dong Ko!”
Eko kembali berteriak-teriak sambil menggoyang-goyangkan poster yang dibawanya mengikuti jejak Juli. “Eh kamu jadi pulang akhir pekan ini?”
“Jadi. Mbok Warsih sudah dua kali kirim surat. Memang kenapa?”
Eko tergelak. “Mai dikawinkan kali! Hahahaha! Wah nggak bisa ikutan demo lagi nih! Aku kesepian, dong!”
Juli hanya mencibir.
“Ada apa Mbok? Baru lima bulan saya tidak pulang, Mbok sudah kelimpungan.”
Mbok Warsih tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk memindahkan air dari gentong ke panci. Kemudian menyalakan kompor dan meletakkan panci itu di atasnya.
“Bikin apaan sih Mbok?”
“Menjerang air Non. Mau mandi air hangat, kan?”
“Iya. Eh pertanyaan saya tadi kok nggak dijawab Mbok?”
Mbok Warsih geleng-geleng kepala. “Akhir-akhir ini perasaan Mbok sering tidak enak. Mbok pernah bermimpi Non Juli diseret orang-orang berseragam. Seram-seram Non! Saya selalu takut kalau ingat itu.”
Juli tertawa. “Cuma mimpi aja Mbok. Buat apa dipikirin?”
“Non ikut-ikutan demo itu ya? Mbok pernah lihat di teve-nya Wak Jamil. Aduh jangan Non! Non itu perempuan, ndak usah neko-neko!”
“Lho kalau perempuan terus tidak boleh? Mbok, saya juga ingin membela kepentingan rakyat, membela orang-orang yang menderita karena keputusan pemerintah yang tidak adil.”
“Waduh Non. Mbok jangan dikasuh omongan kayak gitu. Mbok ini cuma lulusan SD, ndak ngerti apa-apa.”
“Nah makanya Mbok tidak usah melarang saya. Yang saya dan teman-teman lakukan untuk kebaikan semua orang, Mbok.”
“Mbok ini hanya melaksanakan amanat dari almarhum kedua orang tua Non Juli. Beliau pernah berpesan agar Non baik-baik sekolahnya, cepat lulus, lalu kembali ke kampung Non. Membangun kampung kita ini, seperti yang dilakukan bapak Non.”
“Lalu kawin, Mbok? Hahahaha….!! Mbok, Mbok…” Juli meninggal Mbok Warsih dengan tawa berkepanjangan.
“Mau ikut Jul?”
“Ke mana? Traktiran di KFC?”
“Gundulmu! Turun ke jalan! Anak-anak mau orasi lagi tuh!”
Juli memandang semangkok baksonya yang belum habis. “Gimana ya? Aku harus pulang ke rumah Ko. Ada perlu.”
“Pulang melulu! Mau dikawinin sama siapa kamu? Cepetan! Ikut nggak?”
“Iya, iya! Ceriwis!” Juli menyusul Eko yang sudah jalan lebih dulu.
Kembali teriakan-teriakan itu memenuhi udara pusat kota di bawah terik sinar matahari. Dengan pelu bercucuran dan tanpa putus asa, para mahasiswa menyuarakan tuntutan mereka. Aksi mereka malah menjadi tontonan gratis orang lewat.
Di tengah semangat berkobar itu, tiba-tiba puluhan aparat keamanan menyerbu kerumunan pendemo itu. Mereka langsung semburat menghadapi serang dadakan itu. Semua kocar-kacir.
“Heh, demo kita ini tanpa izin ya?” seru Juli di tengah hiruk-pikuk suasana.
Ako angkat bahu. “Aku nggak ngerti. Udahlah, yang penting menjauh dulu!” Eko menyeret tangan Juli agar lari lebih cepat. Dia juga berusaha menyelamatkan rekannya yang nyaris digebuki aparat.
Dor! Dor! Dor!
“Gila, mereka pakai senjata! Dipikirnya kita teroris apa? Benar-benar gila!” seru Eko. “Sana Jul! Jangan pikirkan aku. Kamu lari duluan sana!”
Juli berlari di antara sekian banyak orang yang juga berlarian simpang-siur. Mereka saling bertabrakan, tersandung, bahkan ada yang tertangkap. Dan tiba-tiba saja Juli merasakan panas menembus punggungnya dan seketika itu juga dia terjungkal.
Mbok Warsih menyalakan lampu templok di teras rumah. Matanya mengamati ke ujung jalan, mencari-cari sosok yang seharian ditunggunya.
“Mana tho? Non Juli bilangnya mau pulang hari ini. Kok yo belum datang-datang?” Kemudian Mbok Warsih masuk ke dalam. Digelarnya tikar di atas bale bambu.
“Padahal mau aku kenalkan ke anak Pak Lurah yang baru saja jadi sarjana itu. Siapa tahu mereka jodoh. Tapi sampai sekarang Non Juli belum pulang. Apa besok ya?” gumamnya sendiri. Lima menit kemudian Mbok Warsih terlelap.
Potongan koran edisi dua hari yang lalu melayang diterbangkan angin, lalu jatuh pelan di atas genangan air di pinggir jalan.
Aksi demonstrasi mahasiswa di kota A kali ini memakan korban. Juliawati Adiningrat, seorang mahasiswi dari sebuah PTS terkenal di kota A, terkena tembakan nyasar aparar keamanan yang berusaha membubarkan massa. Peluru karet aparat mencederai punggung mahasiswi tersebut. Juliawati meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.
Air mulai merembes ke seluruh permukaan kertas. Tidak berapa lama kertas itu pun tenggelam.
* * *
Jawa Pos, 4 Februari 2003
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar