"Ki, ngebakso, yuk! Lapar!!”
“Okelah!”
Dua orang gadis manis berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang lengang, menuju kantin. Yang berambut cepak ala Demi Moore dalam Ghost dan tinggi semampai (bukan semeter tak sampai, lho!) bernama Rei. Sedangkan yang lagi seorang, adalah seorang cewek berambut panjang sebahu dengan kulit putih, menyandang nama Kiki.
Kini mereka sudah berada di kantin sekolah. Mereka memilih meja di pojok, tempat strategis yang biasa digunakan untuk ngecengin cowok ganteng. Saat itu semua anak sudah pulang. Sepi dan tenang. Dua mangkok bakso sapi terhidang di hadapan Rei dan Kiki. Mulailah mereka makan sambil ngobrol ngalor-ngidul.
“Tahu nggak apa yang gue liat tadi pas jam istirahat kedua?” tanya Kiki sambil menyeruput kuah baksonya. “Gue liat si Andi ngelaba sama Intan!”
Sebagai pendengar yang baik, Rei berkomentar, ”Super playboy gitu emang nggak bisa diikat! Tentu saja karena manusia bukan sapi!”
Hening beberapa saat lamanya. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan mangkok bakso.
“Lo juga tau nggak yang gue liat?” Rei memecah keheningan. “Heeeboohh!” tambah Rei membuat Kiki makin penasaran. “Gue liat cowok… keereeen!” seru Rei sambil memutar jari telunjuknya.
Kiki melongo. Cewek satu ini memang paling demen kalau mendengar kata cowok keren, macho, bin tajir. Aih, cowok maniak kali!
“Tuh cowok, kereennn banget… motornya! Harley Davidson, man!” Rei tergelak. Kiki memonyongkan bibirnya begitu tahu dia ditipu.
Tiba-tiba pembicaraan itu terhenti. Mata mereka terpaku pada sosok tubuh atletis yang sedang berjalan menuju kantor kepala sekolah.
“Gile! Itu baru cowok, cing!” komentar Kiki heboh. Disikutnya Rei yang saat itu sama bengongnya. “Eh, Nek! Kalau bengong jangan kelewatan. Itu mulut apa ember! Lalat lewat tuh!”
Rei tersungut-sungut.
Kedua cewek itu cepat-cepat menghabiskan baksonya. Ada obyek yang harus mereka buru. Mumpung merekalah first ladies yang melihatnya.
“Kuntit yuk, lagi sepi, nih!” ajak Kiki. Rei mengangguk setuju dengan semangat ’45. Masalah begini merekalah jagonya. Setelah membayar baksonya, kedua gadis itu melesat ke kantor kepsek.
“Ki, intip dari bawah jendela ini aja!” usul Rei.
“Nah, mulai besok Nak Bebe resmi menjadi siswa SMU 07 ini. Kamu mendapat kelas 2A!”
“Terima kasih, Pak. Saya akan menjadi siswa yang baik.”
“Baiklah kalau begitu. Masalahnya sudah beres sekarang. Oh ya, salam buat ayahmu, ya!”
“Baik, Pak. Permisi.”
Rei dan Kiki yang asyik nguping segera kabur sebelum tertangkap basah. Besok pagi, mereka bakalan menjadi pusat perhatian. Merekalah orang pertama yang menyebarkan berita itu. Bahwa kelas mereka kedatangan makhluk kece dan macho, bernama Bebe.
Keesokan harinya, 2A benar-benar heboh, terutama kaum cewek. Rei dan Kiki dikerumuni semua anak cewek kelas 2A.
“Pokoknya kita-kita bakalan kepincut, deh! Kiki meyakinkan dengan gaya khasnya.
“Siapa namanya?” tanya Dewi penasaran.
“Bebe!” jawab Rei.
“Hah? Bau badan?” tukas Lala dengan bego.
“Bau badan lo! Bukan bau badan, tapi B-E-B-E!” jelas Rei.
Kegaduhan itu segera mereda begitu pak Narto masuk kelas dan mengetuk-ngetuk papan tulis dengan penghapus. Tapi bisik-bisik kembali merebak begitu melihat siapa yang ada di belakang pak Narto. Semua mata tertuju ke depan kelas.
“Pagi, Anak-anak! Hari ini kalian kedatangan teman baru. Kenalkan Bebe Kusuma Aditama. Dia pindahan dari Surabaya. Bapak harap kalian bisa membantunya beradaptasi. Nah, Bebe, silakan duduk di bangku kosong dekat jendela itu!” kata pak Narto mengakhiri acara perkenalan.
“Ssstt, Rei! Doi duduk di depan kita, lho! Ini keberuntungan namanya. Siapa tau kita bisa nyontek ke doi!” bisik Kiki.
“Nyontek aja yang lo pikirin!” sahut Rei. Mendadak terlintas niat jahil di otak cewek itu. “He, cowok! Siapa tadi nama kamu?” tanyanya pura-pura lupa.
Cowok yang baru menjadi penghuni 2A itu menoleh ke arah Rei. Dan tersenyum. “Nama saya Bebe Kusuma Aditama.”
Rei balas tersenyum. Lalu ia mengacungkan tangan. “Pak, boleh tanya?”
“Ya, ada pertanyaan apa?”
“Apakah nama seseorang bisa disingkat?”
“Tentu saja bisa. Memangnya mengapa?”
“Bebe Kusuma Aditama terlalu panjang. Singkat saja menjadi Bebe K. Kalau dibaca jadi apa, teman-teman?”
“Bebek!!!” jawab yang lain serempak, kompak.
“Nah, bagaimana? Setuju, Pak?”
Pak Narto geleng-geleng kepala. Muridnya satu ini memang badung. “Sudahlah, Rei. Dia itu teman barumu,” ujar guru itu. Rei meringis.
Bebe tertunduk malu. Tengsin benar dia! Masa dijului Bebek? Rei jadi kasihan. Dengan pelan ditepuknya pundak cowom itu. “Sori, gue cuma becanda. Tapi senyum kamu tadi boleh juga, lho!” ujar Rei sambil tersenyum nakal. Muka Bebe makin memerah.
Dengan langkah ringan Rei menapaki lantai rumahnya. Langkahnya terhenti begitu mendengar panggilan mamanya.
“Rei, sini sebentar. Mama mau bicara.”
Dengan enggan Rei berbalik menghadap mamanya dan menghempaskan pantat di sofa yang empuk.
“Ada apaan sih, Ma? Rei lagi capek, nih!”
“Begini, Mama cuma ingin mengatakan kalau kakakmu akan bersekolah di sini.” Mama Rei terdiam sesaat. “Sudah lima belas tahun kalian berpisah. Sekarang saatnya kalian berkumpul kembali.” Wanita yang masih terlihat muda di usia 40-an itu menghela napas.
Rei cuma manggut-manggut.
“Sejak pisah lima belas tahun silam, kakakmu tidak pernah ke sini lagi. Mama sudah sangat rindu. Mungkin Papamu sekarang bisa lebih bijaksana karena mau mempertemukan kalian berdua.”
Rei makin manggut-manggut.
“Kamu masih ingat wajahnya? Rei, dengar Mama nggak?”
Rei terhenyak. “Ah, sudah lupa! Namanya aja Rei nggak ingat. Mama kan, nggak mau menyebut nama Papa dan kakak di rumah ini lagi!”
“Mama mengerti. Kakakmu juga mungkin sudah lupa adiknya sendiri.”
“Udahlah, Ma! Rei mau tidur, nih!” Rei beranjak meninggalkan mamanya. Dia sampai lupa menanyakan nama kakaknya. Keterlaluan memang! Sebenarnya Rei senang kakaknya kembali. Tapi kalau cewek itu sudah ngantuk, semangat ‘45-nya langsung down, meski beritanya mengguncang dunia.
“Ki, si Bebek udah datang?” tanta Rei begitu sampai di kelas keesokan harinya.
“Kayaknya udah tuh! Cari aja di samping kelas!” jawab Kiki dengan cuek. Cewek itu sedang menyalin PR Biologi. Rei langsung menuju samping kelas. Dilihatnya seorang cowok sedang duduk sendirian. Sepertinya sedang membaca kamus Bahasa Inggris.
“Heh, Bebek!”
Cowok itu terkejut bukan main. Kacamatanya sampai melorot ke ujung hidungnya yang mancung. “Ya, ada apa?” tanya Bebe sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Pinjem PR Kimia, dong!”
Bebe tidak bereaksi.
“Jangan pelit, ya?! Atau kamu mau ngerasain bogem mentahku ini?” kata Rei pura-pura mengancam. Bebe jadi agak keder juga. Diambilnya sebuah buku dari dalam tasnya.
“Thanks ya, Bebek!” seru Rei dengan gembira karena hari ini ia akan terbebas dari hukuman.
“Baik, Anak-anak. Bapak sudah membaca karangan kalian. Semua bagus-bagus,” kata pak Totok. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. “Tapi Bapak sudah memilih satu yang terbaik yaitu karya… Bebe Kusuma Aditama!”
Plok! Plok! Plok!
Tepuk tangan bergema seiring langkah Bebe yang maju ke depan kelas untuk membaca karangannya. Bebe membaca karangannya yang mengangkat topik ‘Mapras dan Perploncoan di Kalangan Siswa SMU’.
“… Masa-masa perkenalan sekolah itu adalah masa yang paling indah. Terlebih lagi bagi kita, para remaja. Saat-saat di mana kita merasa senasib, karena pada prinsipnya…”
“Cowok matre! Cowok matre!!” potong Rei dan Kiki meniru gaya Padhyangan 6. Kontan semua anak tertawa mendengar kekonyolan mereka.
Bebe hanya tertunduk malu di depan kelas. Sedangkan pak Totok sibuk menenangkan anak-anak yang gaduh itu.
Rei Cs berkumpul di kantin sekolah. mereka sedang asyik ngegosipin si anak baru. Siapa lagi kalau bukan si Bebe!
“Si Bebek itu ternyata kuper, ya!” komentar Dewi.
"He-eh. Rugi deh, kalo’ kita punya cowok macam dia!’ timpal Kiki.
“Nggak kuat, bok!”
“Tapi kalau gue perhatiin, wajah si Bebek mirip dengan Rei, ya?” celetuk Kiki.
Rei terkejut mendengar itu. Doi sampai tersedak. “Apanya?” tanyanya.
“Itu, lho! Hidung mancungnya sama bibirnya yang tipis!” sahut Kiki memberi bukti.
Rei hanya bungkam. Ngapain juga gue disamain kayak si Bebek itu! Dasar Bebek! gerutu Rei panjang pendek.
“Aku pulang!!” Rei membuka pintu depan dan langsung masuk. Tapi kakinya terasa berat melangkah begitu melihat orang yang duduk di sofa ruang tamunya. Mamanya pun ada di sana. Mulut Rei ternganga saking herannya. Apa-apaan ini?
Begitu sadar Rei langsung menyeret mamanya ke ruang makan. Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu. “Ma, ngapain orang itu di sini? Dia kenalan Mama, ya?” todong Rei tanpa ampun.
Mamanya tersenyum bijak. “Rei, dialah orang yang Mama maksud. Dia kakakmu, Rei! Kakak kandungmu yang lima belas tahun silam pernah tinggal di rumah ini. Namanya Bebe Kusuma Aditama!”
Rei merasa jumpalitan. Dia merasa sudah tidak menginjak bumi lagi. Tidak tahu harus bicara apa.
“Sebentar lagi temui Mama, ya! Kita ngobrol-ngobrol. Banyak yang ingin Mama bicarakan dengan kalian,” lanjut mama Rei. Kemudian wanita itu berlalu setelah meninggalkan senyuman untuk Rei.
Rei seakan tidak mendengar permintaan mamanya. Otaknya berputar-putar mencoba mencerna kenyataan di depan matanya. Cowok yang telah dia permalukan di depan semua teman-temannya, cowok yang selama ini dijulukinya si Bebek, ternyata adalah kakaknya sendiri!!!
* * *
Koran Pelajar Wiyata Mandala no. 109/ 1997
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar