PEREMPUAN muda di depanku berdiri limbung. Namun tongkat bambu di tangan kanannya berhasil menopang tubuh kecilnya agar tidak jatuh. Tanpa merasa perlu peduli dengan sekitar, ia mulai membungkuk, mengorek-ngorek tempat sampah yang setengah terbuka. Sesekali menarik rambut gimbalnya, sesekali menggaruk pahanya yang hanya ditutupi kain compang-camping, dan sesekali mengomel pada orang lewat.
Aku memandang trenyuh.
Lima menit kemudian perempuan itu berdiri tegak. Tangannya bergerak-gerak seolah mengisyaratkan kalau ia tidak menemukan yang dicarinya. Lalu ia beralih ke tempat sampah yang lain.
“Gimana, Nis? Aku ingin kenalan dengan ayah ibumu, Nis. Anis?”
Aku terkejut. Cukup lama juga aku mengacuhkan kehadirannya di sebelahku.
“Lihat apa?”
“Eh eng, pengamen…”
“Pengamen? Sudah lima belas menit kita duduk di sini, tidak ada aku lihat pengamen. Itu, ya? Cuma perempuan gila!”
Perempuan gila? Itukah sebutan yang pantas untuknya?
“Kasihan juga ya? Paling usianya baru dua puluh-an.”
Kasihan?
Usia kami Cuma terpaut empat tahun. Sejak TK dia sudah dekat denganku, karena aku yang selalu bertugas mengantarnya ke sekolah. Bila malam, aku yang menemaninya belajar. Dan aku yang selalu tidur dengannya, bila dia sakit.
Dia. Adikku, Ambar.
Sepasang mata itu selalu bersinar penuh harapan, penuh kemauan, dan cinta. Yang terakhir aku masukkan karena dia sangat menyayangi semua kucingnya. Dia selalu punya alasan agar kelima kucingnya tidak dibuang ke jalanan oleh ibu.
Kucing adalah makhluk Tuhan juga dan sudah kewajiban kita untuk melindungi makhluk Tuhan yang lemah. Bila Ibu membuang kucing ini ke jalanan, siapa yang akan memberi mereka makan? Bukankah itu sama dengan membunuh makhluk tidak berdosa?
Dan ibu tidak akan bisa melarang lagi.
Aku merasa dialah kakakku karena semua sifat dan sikapnya jauh lebih dewasa daripada aku. Dia yang lebih sering memecahkan masalahku daripada aku yang membantu memecahkan masalahnya. Ambar gadis yang baik.
“Mbak, Ambar ingin hidup di luar rumah. Ambar ingin hidup mandiri. Gimana menurut Mbak?” Tiba-tiba ia mengutarakan keinginannya untuk kos.
“Sudah tahu susahnya hidup di kos?”
“Teman-teman Ambar banyak yang cerita, katanya enak, Mbak!”
“Mau nyuci sendiri? Memasak sendiri?”
“Kalau Ambar malas nyuci, bisa ke laundry. Kalau malas masak, bisa beli di warung. Lagipula sekolah Ambar cukup jauh dari sini.”
Ambar pintar meyakinkan orang sehingga orang percaya dengan kemampuannya. Akhirnya setelah lima kali mendesak ayah dan ibu, Ambar diperbolehkan kos di dekat SMU-nya. Dengan catatan: setiap akhir pekan Ambar harus pulang. Aku mendukung saja keputusan kedua orang tuaku.
Selama empat bulan Ambar tinggal di kos, rumah menjadi sepi. Yang menjadi korban adalah aku. Aku harus menambah rutinitis pagi dan sore dengan memberi makan dan susu kelima kucing kesayangannya. Menghitung mereka satu-satu bila ayah sudah mulai menutup pintu pagar. Tapi tiap akhir pekan Ambar pasti pulang, dan tugas itu kukembalikan padanya.
Suatu hari di bulan Juli, aku membaca kasus pemerkosaan siswa SMU yang terjadi di sekitar sekolah Ambar.
“Siswa itu kakak kelas Ambar, Mbak. Kalau pulang sering larut malam karena mengerjakan tugas di sekolah. Dan pulangnya sering sendirian. Lewat kebun tebu di belakang sekolah Ambar itu lho…”
Ayah dan ibu langsung membekali jiwa adikku dengan berbagai wejangan dan larangan. Hati-hati kalau bergaul. Jangan asal dekat dengan orang yang baru kamu kenal. Jangan pulang sendirian kalau malam. Dan masih panjang lagi…
“Hati-hati!” Aku hanya berpesan begitu.
Dan suatu hari di akhir pekan bulan Oktober, Ambar tidak pulang. Kedua orang tuaku kelabakan. Ambar tidak pulang tanpa pesan. Kami cari ke sekolahnya. Beberapa temannya bilang kalau Sabtu lalu Ambar bilang akan pulang. Dia bahkan membawa tas ranselnya ke sekolah. Kami pun semakin bingung. Ayah sampai memasang iklan di kotan karena tiga hari Ambar menghilang.
Seminggu setelah hilangnya Ambar, seorang temanku membawa potongan koran edisi terbaru. Katanya ada berita yang mungkin aku butuhkan.
Seorang gadis (16 tahun) yang diduga menjadi korban pemerkosaan ditemukan salah seorang penduduk di kebun tebu, di belakang SMU 12. Korban dalam keadaan shock dan tidak bisa berbicara dengan baik. Tidak ada kartu identitas yang…
Ya, Tuhan! SMU 12! Itu sekolah Ambar. Segera aku kabari kedua orang tuaku dan kami segera menuju kantor polisi yang tertulis di berita koran itu, untuk memastikan.
“Ambar? Ingat sama Mbak, kan?”
“Ambar, ini Ibu, Nak? Nak, ingatlah kami!”
Keadaan Ambar sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya memang ditutupi kain panjang tapi aku bisa melihat apa yang sudah terjadi dengan adikku. Seragam sekolahnya sudah tidak layak disebut pakaian lagi. Kancing kemejanya semua hilang. Roknya robek sampai pangkal paha dan aku melihat banyak bercak darah di lututnya.
Ibu berlinangan airmata, sedangkan ayah hanya duduk diam. Tapi aku tahu ayah sangat terpukul. Aku memilih tinggal di sudut, sendirian memandangi adikku yang seperti orang linglung. Kenapa semua ini menimpa gadis manis dan baik seperti Ambar?
Polisi mengusut peristiwa itu. Akhirnya ditemukan pelakunya adalah siswa-siswa sekolah Ambar juga. Tiga orang pelakunya adalah kakak kelas Ambar yang sudah lama menyukainya. Saat hari naas itu, mereka bertiga agak mabuk dan kebetulan Ambar sedang sendirian. Tanpa merasa curiga, Ambar ikut naik mobil mereka dengan janji diantar sampai rumah.
Kami membawa Ambar pulang. Mungkin dengan begitu dia akan ingat keluarganya lagi. Paling tidak ia akan ingat dengan kucing-kucingnya. Namun harapan tinggallah harapan. Keadaan adikku sama sekali tidak berubah, bahkan tingkahnya kian menggila. Suka memecahkan barang keramik di rumah, berteriak-teriak di jalan, atau mengenakan pakaian tidak pantas.
Dan puncaknya, setelah seminggu di rumah, Ambar kabur entah ke mana.
“Kamu sudah bilang kalau sudah punya pacar kan?”
“Sudah. Aku sudah ceritakan ke ayah dan ibu.”
“Berarti aku sudah boleh ke rumahmu?”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa? Eh, adikmu…siapa ya, namanya?”
“Ambar.”
“Ya, Ambar! Kuliah di mana?”
Aku mengedarkan pandanganku. Mataku kembali tertumbuk pada perempuan gila itu. Ia masih saja mengorek-ngorek tempat sampah. Namun kini, tangan kirinya menjinjing tas kresek hitam.
“Eh, adikmu sekarang di mana?”
“Adikku…perempuan gila itu…”
* * *
Jawa Pos, 14 Januari 2003
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar