Selasa, 16 Maret 2010

Tahukah Kamu...

apa arti bintik-bintik putih pada kuku?
Bintik-bintik putih yang sering nampak tersebar pada kuku jari, adalah tanda bahwa kuku itu memar atau luka. Tapi sebelum orang mengenalnya sebagai suatu kondisi kesehatan, orang-orang memberi arti lain pada bintik-bintik putih itu. Pada jempol, berarti pemiliknya akan menerima hadiah. Pada jari telunjuk menandakan jumlah sahabat di pemilik. Pada jari tengah artinya jumlah musuh yang dipunyai. Sedangkan di jari manis, berarti pemiliknya akan menerima surat dan di jari kelingking menandakan pemiliknya akan pergi berkelana.

mengapa pria berjalan di sisi jalan?
Apabila ada seorang pria berjalan bersama seorang wanita di trotoar, si pria akan berjalan di sisi dekat jalan. Sementara si wanita berjalan di sisi dalam. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi si wanita dari senggolan kendaraan. Tapi dulu, maksudnya lain. Di abad ke-16 di Inggris, rumah-rumah di sana belum memiliki saluran air dalam rumah, seperti toilet dan bak cuci piring. Mereka memergunakan panci sebagai tempat air kotor dan sampah. Untuk membuangnya, cukup menuangkannya dari jendela loteng ke selokan. Oleh sebab itu, berjalan bersisihan kadang berbahaya. Maka si pria akan menunjukkan 'kejantanannya' dengan berjalan di dekat sisi jalan, jika dia bersama seorang wanita. Dengan begitu, bila ada orang yang ceroboh membuang sampah ke jalan, si pria yang akan kena!

ramalan Nostradamus
Nama lengkap Nostradamus adalah Michel De Nostradame, yang dilahirkan di Kota Provence, Prancis, pada 1503. Ketika kecil dia dikenal sebagai anak yang cerdas. Dari neneknya ia belajar bahasa Ibrani dan ilmu Astrologi. Setelah dewasa, Nostradamus belajar ilmu Kedokteran di Universitas Montpellier. Sewaktu berkecamuk wabah penyakit menular di kotanya, Nostradamus dikenal sebagai dokter yang pandai menyembuhkan penyakit dengan cara-cara penyembuhan modern. Namun nasibnya malang. Dia justru gagal menyembuhkan anak istrinya sendiri dari bahaya maut karena penyakit menular itu.
Karena sedih, Nostradamus mengembara selama bertahun-tahun. Akhirnya dia menikah lagi dan menetap di Kota Salon. Pada 1550, dia menerbitkan almanak-nya yang pertama, yang memuat ramalan untuk tahun berikutnya. Karena dianggap berhasil, ia menerbitkan almanak-nya setahun sekali. Salah satu ramalannya yang paling populer dan terkenal disebut The Centuries, yang terdiri dari 100 Quatrains. Sebuah Quatrain terbuat dari syair-syair empat baris. Centuries tidak mengacu pada kalender tahunan, akan tetapi pada satu seri 100 Quatrains. Di dalam ke-100 syair inilah Nostradamus meramal kejadian-kejadian sejak zamannya sampai akhir dunia alias kiamat nanti. Menurutnya, kiamat akan terjadi pada 3797 (berbeda dengan ramalan Bangsa Maya yang menghebohkan, sampai ada film 2012 itu ya)
Legenda ramalan Nostradamus banyak yang menganggap ramalan itu tepat dan benar. Namun tidak sedikit yang menganggapnya bohong besar. Bahkan Nostradamus dianggap pengikut setan. Banyak kejadian bersejarah yang diramal benar oleh Nostradamus. Misal saja, munculnya tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler, Napoleon, Anwar Sadad, dan lain-lain. Namun tidak jarang pula ramalannya meleset alias tidak benar.

beberapa tahayul terkenal
Dalam ribuan tahun yang lalu, sebelum ada penjelasan ilmiah untuk banyak kejadian, banyak orang hanya menerka apa yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Misal saja, manusia gua yang terkaget-kaget ketika melihat matahari yang seharian bersinar terang, tiba-tiba tenggelam di sore hari dan hari menjadi gelap. Atau bibit yang ditanamnya tumbuh menjadi pohon tinggi. Penjelasan itu dulu tidak pernah mereka dapatkan. Akhirnya muncul beberapa tahayul, yang mereka anggap bisa menjelaskan keadaan itu.
Pertama, angka 13, terlebih hari Jumat tanggal 13. Konon tahayul ini berasal dari dongeng Norse kuno. Alkisah, Dewi Freya diusir karena dianggap tukang sihir. Setiap hari Jumat, hari yang dikenal sebagai hari sabat para tukang sihir, ia bertemu dengan 11 tukang sihir dan satu iblis, sehingga jumlahnya menjadi 13. Pertemuan yang mengerikan.
Tahun 1987 dianggap sebagai tahun yang menakutkan bagi para penderita Triskaidekaphobia atau takut angka 13. Di tahun itu, hari ketiga belas jatuh pada hari Jumat sampai tiga kali dalam satu tahun, yakni Februari, Maret, dan November. Para triskaidekaphobia ini menganggap tahun itu banyak membawa bencana. Kepercayaan ini akhirnya menjadi tahayul sampai sekarang. Orang-orang menghindari bepergian pada tanggal 13. Begitu pula menghindari jamuan makan yang pesertanya 13 orang. Di Paris, panitia bahkan mengupah satu orang sebagai orang ke-14, agar pesertanya tidak 13 orang. Kombinasi antara angka 13 dan hari Jumat dianggap sebagai hal yang banyak menimbulkan kesialan. Karena di zaman itu, hukum gantung selalu dilaksanakan pada hari Jumat. Sehingga hari Jumat dikenal sebagai Hangman's Day alias hari hukum gantung. Setiap tahun pasti memiliki paling sedikit satu kali tanggal 13 pada hari Jumat.
Berikutnya, ada tahayul yang mengatakan kita tidak boleh berjalan di bawah tangga terbuka. Tahayul ini mengandung nasihat baik. Sebab tangga tidak diketahui kapan jatuhnya, serta palu atau ember cat dapat jatuh dari tangga dan menimpa orang.
Begitu juga dengan tahayul mengapa kita tidak boleh membuka payung di dalam rumah. Payung yang dibuka di dalam rumah bisa menyenggol isi rumah, seperti lampu dan hiasan, serta perabotan lain. Banyak yang menganggapnya sebagai nasib buruk, padahal logikanya cuma keteledoran.
Tahayul lain menyebutkan nasib buruk akan menimpa kalau kita memecahkan cermin. Alasan yang tepat adalah cermin pecah dapat mengganggu dan membahayakan jika tidak dibersihkan, kita bisa tergores kepingan kacanya, terutama bila terjadi karena kelalaian. Pada zaman kuno, cermin sangat jarang dan harganya mahal, sehingga menjadi barang berharga. Bagi banyak orang, ketika itu, tampaknya cukup ajaib mereka dapat melihat bayangan mereka sendiri di sepotong kaca. Sehingga, jika kaca itu pecah, mereka takut roh mereka terluka dan mereka akan jatuh sakit. (dari berbagai sumber/*)

Hepi B'day!

Ingin tampil beda ketika mengucapkan 'selamat ulang tahun' atawa 'hepi birthday' untuk yang paling disayang? Ini beberapa ucapan met ultah yang aku kutip dari sebuah majalah remaja:
- Brasil
Bahasa resmi di negara ini adalah Portugis. Salah satu ucapan ultah-nya kira-kira begini: Parabens pra voce nesta data querida, muitas felicidades e muitos anos de vida. Artinya: selamat ulang tahun, selamat sejahtera kami doakan, selamat panjang umur dan bahagia.
- India
Dalam bahasa resminya yaitu Hindi, ultah ala negeri Bollywood ini (dalam bahasa latin): aap ka janamdin wah din hai jo ishwar ne kewal aap ke liye banaya hai. Janamdim Mubarak, yang artinya: hari ulang tahun adalah hari yang telah ditakdirkan Tuhan untuk kamu. Selamat ulang tahun.
- Korea
Ini nih negara yang paling aku suka artis-artisnya (ganteng-ganteng bo! Apalagi macam Jae He tuh. Tapi lama-lama aku lihat Jae He kok jadi mirip si Sule ya, hihihi!). Dalam bahasa Korea, met ultah bisa seperti ini: seng-il chuka hamnida, artinya sangat simple: selamat ulang tahun.
- Cina
Film-film dari negeri Ginseng ini juga cakep-cakep, tapi yang paling aku suka justru yang macam Jet Li dan Jacky Chan (kagum aja sama beladirinya). Ucapan ultah dari negeri Tirai Bambu ini: kung si seng jre kwai le, yang artinya selamat ulang tahun.
- Belanda
Ada beberapa variasi ucapan ultah dari negeri yang pemerintahnya pernah menjajah kita ratusan tahun ini. Seperti: van harte gefeliciteerd met je verjaardag (selamat ultah), nog vale jaren (semoga panjang umur), tuurlijk herinner ik me jouw verjaardag, hoor! Dit is de kaart! Ik ben hem bijna vergeten! Gefeliciteerd! (tentu aku ingat ultahmu! Ini dia kartunya! Hampir saja aku lupa! Selamat ya!). Atau: dat je maar een ouwe taaie mag worden, yang artinya: semoga kamu menjadi orang yang tahan uji.
- Bangladesh
Dalam bahasa resmi Benggali, met ultah ditulis: shubho jonmodin. Subhechcha (selamat ultah. best wishes)
- Prancis
Negara yang terkenal dengan berbagai tempat romantis ini memiliki ucapan ultah yang cukup lucu: il faut mieux tu duviens d'etre gourmande aujourd'hui. Vite, gagne le bon gateaux! Bon anniversaires! Yang artinya: sekarang saatnya kamu jadi rakus. ayo sikat kue-kue enak. selamat ultah.
- Jepang
Ucapan dari negara yang terkenal dengan teknologinya ini, salah satunya: otanjoubi omendetou gozaimasu (selamat ultah). Atau: akai bara, wa iidesune. Kado wa osoi gomenne. Demo, otanjoubi omedetaou (rose are red, cactus are prickly. Sorry, this card didn't get there more quickly. Happy birthday)
- Italia
Ada beberapa ucapan ultahnya: per il tuo compleanno rilassati e pensa solo a...festaggiarlo alla grande! Tantri auguri (di hari ultahmu, bersantailah dan pikirkan seja tentang...pesta yang meriah! selamat ultah), atau: e'il tuo compleanno! Tantri auguri e buon divertimento! (hari ini ultahmu. selamat ultah dan bersukacitalah)
- Jerman
Ucapan ultahnya cukup panjang nih! Kuatir juga, jangan-jangan ada huruf yang ketinggalan: hoch soll sie leben, hoch soll sie leben, drei mal hoch...ich wuensche dir zu einem glueckwuensche geburtstag. Wann und wo wollen wir zusammen? Ich warte auf deine einlandung, yang artinya: panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya...saya ucapkan selamat ultah yang berbahagia. kapan dan di mana kita makan bareng? ditunggu lho traktirannya!. (*)

Senin, 15 Maret 2010

Ketika Harga BBM Naik

“TURUNKAN harga BBM!!!”
“Bangsa kita sudah menderita, kenapa dibikin lebih menderita?!”
“Tidak adakah pemerintahan yang lebih manusiawi dan merakyat?!”
Di bawah sengatan sang surya tepat pukul dua belas, puluhan mahasiswa melakukan aksi demo di bundaran di tengah kota. Dengan harapan suara mereka yang juga menyuarakan suara rakyat miskin didengar oleh mereka yang di atas.
“Wahai pemerintah, dengarkanlah keluhan kami!”
“Lihatlah ke bawah! Jangan enak-enakan duduk di atas!”
Spanduk dan poster dengan tulisan yang lebih banyak mengecam pemerintah berjejer di depan para pendemo. Andaikan mereka bisa bersuara, pasti mereka juga ikut berteriak-teriak.
“Jul, suaramu habis?”
Juli tertawa. “He-em, lumayan, Ko!”sahutnya. “Dua jam teriak-teriak, nih!”
“Tapi rekan-rekan yang lain semangat sekali ya?”
Juli mengangguk-angguk. “Turunkan harga BBM! Hei, ayo yang semangat dong Ko!”
Eko kembali berteriak-teriak sambil menggoyang-goyangkan poster yang dibawanya mengikuti jejak Juli. “Eh kamu jadi pulang akhir pekan ini?”
“Jadi. Mbok Warsih sudah dua kali kirim surat. Memang kenapa?”
Eko tergelak. “Mai dikawinkan kali! Hahahaha! Wah nggak bisa ikutan demo lagi nih! Aku kesepian, dong!”
Juli hanya mencibir.

“Ada apa Mbok? Baru lima bulan saya tidak pulang, Mbok sudah kelimpungan.”
Mbok Warsih tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk memindahkan air dari gentong ke panci. Kemudian menyalakan kompor dan meletakkan panci itu di atasnya.
“Bikin apaan sih Mbok?”
“Menjerang air Non. Mau mandi air hangat, kan?”
“Iya. Eh pertanyaan saya tadi kok nggak dijawab Mbok?”
Mbok Warsih geleng-geleng kepala. “Akhir-akhir ini perasaan Mbok sering tidak enak. Mbok pernah bermimpi Non Juli diseret orang-orang berseragam. Seram-seram Non! Saya selalu takut kalau ingat itu.”
Juli tertawa. “Cuma mimpi aja Mbok. Buat apa dipikirin?”
“Non ikut-ikutan demo itu ya? Mbok pernah lihat di teve-nya Wak Jamil. Aduh jangan Non! Non itu perempuan, ndak usah neko-neko!”
“Lho kalau perempuan terus tidak boleh? Mbok, saya juga ingin membela kepentingan rakyat, membela orang-orang yang menderita karena keputusan pemerintah yang tidak adil.”
“Waduh Non. Mbok jangan dikasuh omongan kayak gitu. Mbok ini cuma lulusan SD, ndak ngerti apa-apa.”
“Nah makanya Mbok tidak usah melarang saya. Yang saya dan teman-teman lakukan untuk kebaikan semua orang, Mbok.”
“Mbok ini hanya melaksanakan amanat dari almarhum kedua orang tua Non Juli. Beliau pernah berpesan agar Non baik-baik sekolahnya, cepat lulus, lalu kembali ke kampung Non. Membangun kampung kita ini, seperti yang dilakukan bapak Non.”
“Lalu kawin, Mbok? Hahahaha….!! Mbok, Mbok…” Juli meninggal Mbok Warsih dengan tawa berkepanjangan.

“Mau ikut Jul?”
“Ke mana? Traktiran di KFC?”
“Gundulmu! Turun ke jalan! Anak-anak mau orasi lagi tuh!”
Juli memandang semangkok baksonya yang belum habis. “Gimana ya? Aku harus pulang ke rumah Ko. Ada perlu.”
“Pulang melulu! Mau dikawinin sama siapa kamu? Cepetan! Ikut nggak?”
“Iya, iya! Ceriwis!” Juli menyusul Eko yang sudah jalan lebih dulu.
Kembali teriakan-teriakan itu memenuhi udara pusat kota di bawah terik sinar matahari. Dengan pelu bercucuran dan tanpa putus asa, para mahasiswa menyuarakan tuntutan mereka. Aksi mereka malah menjadi tontonan gratis orang lewat.
Di tengah semangat berkobar itu, tiba-tiba puluhan aparat keamanan menyerbu kerumunan pendemo itu. Mereka langsung semburat menghadapi serang dadakan itu. Semua kocar-kacir.
“Heh, demo kita ini tanpa izin ya?” seru Juli di tengah hiruk-pikuk suasana.
Ako angkat bahu. “Aku nggak ngerti. Udahlah, yang penting menjauh dulu!” Eko menyeret tangan Juli agar lari lebih cepat. Dia juga berusaha menyelamatkan rekannya yang nyaris digebuki aparat.
Dor! Dor! Dor!
“Gila, mereka pakai senjata! Dipikirnya kita teroris apa? Benar-benar gila!” seru Eko. “Sana Jul! Jangan pikirkan aku. Kamu lari duluan sana!”
Juli berlari di antara sekian banyak orang yang juga berlarian simpang-siur. Mereka saling bertabrakan, tersandung, bahkan ada yang tertangkap. Dan tiba-tiba saja Juli merasakan panas menembus punggungnya dan seketika itu juga dia terjungkal.

Mbok Warsih menyalakan lampu templok di teras rumah. Matanya mengamati ke ujung jalan, mencari-cari sosok yang seharian ditunggunya.
“Mana tho? Non Juli bilangnya mau pulang hari ini. Kok yo belum datang-datang?” Kemudian Mbok Warsih masuk ke dalam. Digelarnya tikar di atas bale bambu.
“Padahal mau aku kenalkan ke anak Pak Lurah yang baru saja jadi sarjana itu. Siapa tahu mereka jodoh. Tapi sampai sekarang Non Juli belum pulang. Apa besok ya?” gumamnya sendiri. Lima menit kemudian Mbok Warsih terlelap.

Potongan koran edisi dua hari yang lalu melayang diterbangkan angin, lalu jatuh pelan di atas genangan air di pinggir jalan.
Aksi demonstrasi mahasiswa di kota A kali ini memakan korban. Juliawati Adiningrat, seorang mahasiswi dari sebuah PTS terkenal di kota A, terkena tembakan nyasar aparar keamanan yang berusaha membubarkan massa. Peluru karet aparat mencederai punggung mahasiswi tersebut. Juliawati meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.
Air mulai merembes ke seluruh permukaan kertas. Tidak berapa lama kertas itu pun tenggelam.

* * *

Jawa Pos, 4 Februari 2003

Perempuan Gila Itu

PEREMPUAN muda di depanku berdiri limbung. Namun tongkat bambu di tangan kanannya berhasil menopang tubuh kecilnya agar tidak jatuh. Tanpa merasa perlu peduli dengan sekitar, ia mulai membungkuk, mengorek-ngorek tempat sampah yang setengah terbuka. Sesekali menarik rambut gimbalnya, sesekali menggaruk pahanya yang hanya ditutupi kain compang-camping, dan sesekali mengomel pada orang lewat.
Aku memandang trenyuh.
Lima menit kemudian perempuan itu berdiri tegak. Tangannya bergerak-gerak seolah mengisyaratkan kalau ia tidak menemukan yang dicarinya. Lalu ia beralih ke tempat sampah yang lain.
“Gimana, Nis? Aku ingin kenalan dengan ayah ibumu, Nis. Anis?”
Aku terkejut. Cukup lama juga aku mengacuhkan kehadirannya di sebelahku.
“Lihat apa?”
“Eh eng, pengamen…”
“Pengamen? Sudah lima belas menit kita duduk di sini, tidak ada aku lihat pengamen. Itu, ya? Cuma perempuan gila!”
Perempuan gila? Itukah sebutan yang pantas untuknya?
“Kasihan juga ya? Paling usianya baru dua puluh-an.”
Kasihan?

Usia kami Cuma terpaut empat tahun. Sejak TK dia sudah dekat denganku, karena aku yang selalu bertugas mengantarnya ke sekolah. Bila malam, aku yang menemaninya belajar. Dan aku yang selalu tidur dengannya, bila dia sakit.
Dia. Adikku, Ambar.
Sepasang mata itu selalu bersinar penuh harapan, penuh kemauan, dan cinta. Yang terakhir aku masukkan karena dia sangat menyayangi semua kucingnya. Dia selalu punya alasan agar kelima kucingnya tidak dibuang ke jalanan oleh ibu.
Kucing adalah makhluk Tuhan juga dan sudah kewajiban kita untuk melindungi makhluk Tuhan yang lemah. Bila Ibu membuang kucing ini ke jalanan, siapa yang akan memberi mereka makan? Bukankah itu sama dengan membunuh makhluk tidak berdosa?
Dan ibu tidak akan bisa melarang lagi.
Aku merasa dialah kakakku karena semua sifat dan sikapnya jauh lebih dewasa daripada aku. Dia yang lebih sering memecahkan masalahku daripada aku yang membantu memecahkan masalahnya. Ambar gadis yang baik.
“Mbak, Ambar ingin hidup di luar rumah. Ambar ingin hidup mandiri. Gimana menurut Mbak?” Tiba-tiba ia mengutarakan keinginannya untuk kos.
“Sudah tahu susahnya hidup di kos?”
“Teman-teman Ambar banyak yang cerita, katanya enak, Mbak!”
“Mau nyuci sendiri? Memasak sendiri?”
“Kalau Ambar malas nyuci, bisa ke laundry. Kalau malas masak, bisa beli di warung. Lagipula sekolah Ambar cukup jauh dari sini.”
Ambar pintar meyakinkan orang sehingga orang percaya dengan kemampuannya. Akhirnya setelah lima kali mendesak ayah dan ibu, Ambar diperbolehkan kos di dekat SMU-nya. Dengan catatan: setiap akhir pekan Ambar harus pulang. Aku mendukung saja keputusan kedua orang tuaku.
Selama empat bulan Ambar tinggal di kos, rumah menjadi sepi. Yang menjadi korban adalah aku. Aku harus menambah rutinitis pagi dan sore dengan memberi makan dan susu kelima kucing kesayangannya. Menghitung mereka satu-satu bila ayah sudah mulai menutup pintu pagar. Tapi tiap akhir pekan Ambar pasti pulang, dan tugas itu kukembalikan padanya.
Suatu hari di bulan Juli, aku membaca kasus pemerkosaan siswa SMU yang terjadi di sekitar sekolah Ambar.
“Siswa itu kakak kelas Ambar, Mbak. Kalau pulang sering larut malam karena mengerjakan tugas di sekolah. Dan pulangnya sering sendirian. Lewat kebun tebu di belakang sekolah Ambar itu lho…”
Ayah dan ibu langsung membekali jiwa adikku dengan berbagai wejangan dan larangan. Hati-hati kalau bergaul. Jangan asal dekat dengan orang yang baru kamu kenal. Jangan pulang sendirian kalau malam. Dan masih panjang lagi…
“Hati-hati!” Aku hanya berpesan begitu.

Dan suatu hari di akhir pekan bulan Oktober, Ambar tidak pulang. Kedua orang tuaku kelabakan. Ambar tidak pulang tanpa pesan. Kami cari ke sekolahnya. Beberapa temannya bilang kalau Sabtu lalu Ambar bilang akan pulang. Dia bahkan membawa tas ranselnya ke sekolah. Kami pun semakin bingung. Ayah sampai memasang iklan di kotan karena tiga hari Ambar menghilang.
Seminggu setelah hilangnya Ambar, seorang temanku membawa potongan koran edisi terbaru. Katanya ada berita yang mungkin aku butuhkan.
Seorang gadis (16 tahun) yang diduga menjadi korban pemerkosaan ditemukan salah seorang penduduk di kebun tebu, di belakang SMU 12. Korban dalam keadaan shock dan tidak bisa berbicara dengan baik. Tidak ada kartu identitas yang…
Ya, Tuhan! SMU 12! Itu sekolah Ambar. Segera aku kabari kedua orang tuaku dan kami segera menuju kantor polisi yang tertulis di berita koran itu, untuk memastikan.
“Ambar? Ingat sama Mbak, kan?”
“Ambar, ini Ibu, Nak? Nak, ingatlah kami!”
Keadaan Ambar sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya memang ditutupi kain panjang tapi aku bisa melihat apa yang sudah terjadi dengan adikku. Seragam sekolahnya sudah tidak layak disebut pakaian lagi. Kancing kemejanya semua hilang. Roknya robek sampai pangkal paha dan aku melihat banyak bercak darah di lututnya.
Ibu berlinangan airmata, sedangkan ayah hanya duduk diam. Tapi aku tahu ayah sangat terpukul. Aku memilih tinggal di sudut, sendirian memandangi adikku yang seperti orang linglung. Kenapa semua ini menimpa gadis manis dan baik seperti Ambar?
Polisi mengusut peristiwa itu. Akhirnya ditemukan pelakunya adalah siswa-siswa sekolah Ambar juga. Tiga orang pelakunya adalah kakak kelas Ambar yang sudah lama menyukainya. Saat hari naas itu, mereka bertiga agak mabuk dan kebetulan Ambar sedang sendirian. Tanpa merasa curiga, Ambar ikut naik mobil mereka dengan janji diantar sampai rumah.
Kami membawa Ambar pulang. Mungkin dengan begitu dia akan ingat keluarganya lagi. Paling tidak ia akan ingat dengan kucing-kucingnya. Namun harapan tinggallah harapan. Keadaan adikku sama sekali tidak berubah, bahkan tingkahnya kian menggila. Suka memecahkan barang keramik di rumah, berteriak-teriak di jalan, atau mengenakan pakaian tidak pantas.
Dan puncaknya, setelah seminggu di rumah, Ambar kabur entah ke mana.

“Kamu sudah bilang kalau sudah punya pacar kan?”
“Sudah. Aku sudah ceritakan ke ayah dan ibu.”
“Berarti aku sudah boleh ke rumahmu?”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa? Eh, adikmu…siapa ya, namanya?”
“Ambar.”
“Ya, Ambar! Kuliah di mana?”
Aku mengedarkan pandanganku. Mataku kembali tertumbuk pada perempuan gila itu. Ia masih saja mengorek-ngorek tempat sampah. Namun kini, tangan kirinya menjinjing tas kresek hitam.
“Eh, adikmu sekarang di mana?”
“Adikku…perempuan gila itu…”

* * *

Jawa Pos, 14 Januari 2003

Detektif Monk dan Flu Biru

Judul : Monk-Detektif Monk dan Flu Biru
Penulis : Lee Goldberg
Penerjemah : Rika Sylfentri
Penyunting : Yudi Iswanto
Penerbit : Dastan Books
Cetakan pertama : November 2009
Tebal buku : 400 halaman

Kali ini Monk menghadapi kasus pembunuhan wanita-wanita muda yang sepatu sebelah kirinya diambil oleh pelaku. Aneh. Kenapa harus yang kiri? Belum tuntas menyelesaikan kasus itu, terjadi mogok kerja massal di kepolisian yang dinamakan 'Flu Biru'. Untuk mengatasi kekurangan personel, Monk diangkat oleh walikota menjadi kapten polisi yang memimpin Divisi Pembunuhan. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan polisi yang kena flu biru, tidak terkecuali Kapten Stottlemeyer.

Dalam menyelesaikan misinya sebagai kapten, Monk dibantu oleh tim khusus yang terdiri atas para detektif 'edan' yang sudah dibuang dari kepolisian. Monk dan tim barunya dipaksa bekerja keras, bahkan sejak hari pertama Monk menjadi kapten. Selain menyelidiki kasus pembunuhan 'sepatu kiri', Monk juga harus mengungkap misteri-misteri aneh lainnya, yaitu kematian seorang peramal yang cantik dan seksi, pembunuhan beberapa orang dengan tanggal dan tahun kelahiran yang sama, serta kematian seorang polisi rekan mereka.

Kalian yang suka nonton serial Monk, tidak ada salahnya membaca novel ini juga. Setahuku ini novel Monk ketiga yang berbahasa Indonesia, setelah kasus pemadam kebakaran dan liburan di Hawai. Kekonyolan, intrik, dan misterinya tidak kalah dengan yang di serial. Sama-sama menarik!

Minggu, 14 Maret 2010

Favorit

  • Seno Gumira Ajidarma adalah sastrawan, fotografer, dan kritikus film Indonesia. Karya-karya sastranya meliputi kumpulan cerpen, drama, novel, dan komik. Ia lahir di Boston, tanggal 19 Juni 1958. Cerpen-cerpennya muncul di harian Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Majalah Matra, Djakarta!, Horison, dan Latitute. Selain menulis, ia juga mengajar di IKJ pada mata kuliah Penulisan Kreatif dan Kritik Film. Buku-bukunya yang diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama adalah Sebuah Pertanyaan tentang Cinta, Atas Nama Malam, Kematian Donny Osmond, dan Sepotong Senja untuk Pacarku. Cerpen "Sebuah Pertanyaan untuk Cinta" pernah difilmkan dan ikut serta dalam festival film JIFFEST (Jakarta International Film Festival). Karya SGA lainnya, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Saksi Mata, Wisanggeni Sang Buronan, Negeri Senja, Kalatidha, Biola Tak Berdawai, Penembak Misterius, Iblis Tidak Pernah Mati, dan Dunia Sukab.
  • Alberthiene Endah dikenal sebagai penulis yang sering membuat biografi tokoh Indonesia. Wanita kelahiran Bandung, 16 September ini pernah menulis biografi Krisdayanti dalam Seribu Satu KD, politikus Dwi Ria Latifa, raja sinetron Raam Punjabi, dan penyanyi Chrisye. Sarjana Sastra Belanda lulusan UI ini juga menulis cerita/skenario untuk pergelaran drama musikal Guruh Soekarno Putra, bertajuk Mahadaya Cinta. Selain biografi, ia juga menulis novel. Novel buah karyanya antara lain Jodoh Monica, Cewek Matre, Dicintai Jo, dan Jangan Beri Aku Narkoba… (JBAN) yang difilmkan dengan judul DETIK TERAKHIR. Mei 2005, JBAN terpilih sebagai Juara Pertama Adikarya Award 2005 IKAPI. Sebelumnya, novel ini juga mendapat penghargaan khusus dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Fan Campus dalam upaya pemberantasan narkoba. Alberthiene memiliki pengalaman delapan tahun bekerja di majalah Femina, kini penulis bekerja sebagai Redaktur Pelaksana majalah Prodo. Ia juga mengajar jurnalistik di Indonesia International Fashion Institute dan membentuk sekolah menulis FUN WRITING bersama Guruh Soekarno Putra.
  • Clara Ng adalah pengarang sejumlah novel dewasa dan juga buku anak-anak. Ibu muda berbintang Leo ini lahir di Jakarta tahun 1973. Lulusan di Ohio State University jurusan Interpersonal Comunication ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti.Novel-novel dewasa yang sudah diterbitkan adalah Indiana Chronicle: Blues, Indiana Chronicle: Lipstick, Indiana Chronicle: Bridesmaid, The (Un)Reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa. Buku anak-anaknya yang sudah terbit adalah Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta.
  • Untuk kategori manga, aku suka karya-karya Kyoko Hikawa. Ada beberapa komik perempuan kelahiran 15 Februari 1957 ini yang aku koleksi, salah satunya via e-book yang aku scan sendiri. Kyoko yang lahir di Osaka, Jepang ini lebih banyak membuat manga ber-genre romance alias romantis alias serial cantik. Kyoko sangat menyukai kucing dan tidak cukup cuma satu ekor dipunyainya. Salah satu kegiatan favoritnya adalah melakukan sesuatu yang berguna untuk rumahnya. Kyoko membenci kecoak dan nyamuk. Beberapa karyanya: Serial Chizumi dan Fujiomi (Angin Musim Gugur, Pastel Mood, dan Golden Book), Dunia Mimpi (Far Away), Mr Friday, Girls, Miriam, Romantic Dream, Harmoni, dan Di Balik Jendela Putih. Satu lagi yang baru-baru aja terbit dan sampai sekarang belum jelas kelanjutannya, Fairy Tales: Motif Brocade.
  • Yu Asagiri, terlahir dengan nama Yuriko Takano yang juga bisa ditulis Yu Asagiri. Asagiri adalah penulis manga asal Tokyo, Jepang. Debut manga pertamanya pada 1976. Asagiri menerima Kodansha Manga Awarda pada 1987 untuk karyanya berjudul Nana Iru Majikku atau Seven Magic Flowers. Karyanya yang lain: Kakakku Sayang, Min-Min, Album Kenangan, Greatman, dan My Hero.
  • Yoko Matsumoto, satu lagi mangaka yang aku suka. Beberapa bukunya aku koleksi, dan setiap ada buku baru, aku usahakan dapat buat tambah-tambah koleksi. Yoko bagus dalam membuat cerita misteri. Beberapa karyanya: Cinderella Express, Strawberry, SOS, Door House, Black Collection, Missing Face, dan Death Massage.

Sabtu, 13 Maret 2010

Andai Aku Masih Boleh...

“SEPERTI kucing!”
Aku mendongak, mendapati sepasang mata tajam itu sedang menatapku, seolah-olah ingin menelanjangi seluruh isi kepalaku.
“Seperti kucing!” ulangnya.
“Untuk alasan apa kamu sebut aku begitu?”
Bibirnya menyeringai tipis.
“Karena aku suka ikan asin?” tebakku.
Ia menggeleng. “Mitos, kucing punya sembilan nyawa. Mati satu masih ada delapan nyawa cadangan lainnya. Sedangkan kamu, kamu punya sembilan kesempatan. Pulang kampung tiap libur semester. Hilang satu kesempatan, masih ada delapan lainnya. Kenapa tidak kau buang saja untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik?”
“Tidak ada yang lebih baik!” Aku mulai gusar. “Karena aku… aku mencintai Ali!”
“Cih, cinta. Cinta sudah membeli kebebasanmu untuk memilih!”

Biarlah.
Empat setengah tahun yang lalu merupakan awal cerita yang boleh dikatakan indah.
“Aku tidak percaya!”
“Sungguh, lihatlah mataku! Aku selalu menemukan kejujuran di hatimu dengan kedua mataku ini. Sekarang kamu akan mampu menemukan hal yang sama pula di sini!”
Permintaan yang diucapkan dengan romantis. Ali. Setelah enam bulan memendam rasa, tiga bulan melakukan pendekatan, kami pun resmi berpacaran. Dan aku baru sadar kalau Ali termasuk populer karena tak sedikit tatapan iri yang aku terima.
Di tahun terakhir masa perjalanan panjang di SMU, kami mencoba mengukir kenangan selama 365 hari sebelum menanggalkan seragam putih abu-abu itu.
Seperti kucing?
Ahahaha! Sheri sering konyol. Tapi inilah leluconnya yang paling konyol. Apa tidak ada perumpamaan yang lebih manis?
Aku kuliah di Ekonomi sudah hampir lima tahun, karena banyak mata kuliah yang harus aku ulang. Semestinya aku punya sepuluh harapan, bukan sembilan seperti kata Sheri. Namun nyawa pertama sudah aku tukar dengan dua patah kata ‘selamat tinggal’ itu. Saat dimulainya aku didera perasaan bersalah. Sampai sekarang.
“Apa anak kuliahan lebih hebat hingga aku tidak bisa mempertahankan kamu?”
“Tidak. Kamu tetap yang terhebat!”
“Aku bukan calon sarjana.”
“Biar.”
“Aku cuma pekerja bengkel.”
“Biar.”
“Lalu kenapa kita harus putus?”
Karena aku terlalu mencintai kamu. Namun jawaban itu tidak pernah keluar. Pun ketika Ali harus menguncang-guncang bahuku untuk mendengar jawaban. Aku tidak bisa.
Keluargaku termasuk terpandang, yang mempunyai pembantu dan sopir pribadi. Aku kenal semua rekan kerja papa, juga putra mereka yang menjadi pewaris tunggal. Kaya materi, ganteng, dan berpendidikan tinggi, seperti tipe calon menantu mama.
Malangnya, kenapa aku jatuh cinta pada anak sopir papa? Ali tentu saja tidak kaya materi, tidak juga ganteng sekali, dan hanya lulusan SMU. Ali yang sederhana dalam segala hal, bahkan dalam mencintaiku. Tidak peduli dalamnya jurang yang terbentang di antara kami. Tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa jurang itulah yang telah menelanku dari kehidupannya.
Daripada keluarga Ali yang menjadi korban, lebih baik perasaanku yang sakit. Aku tidak tega menerima sorot kehilangannya, tapi aku lebih tidak tega bila melihat keenam adiknya mengais makanan di pinggir jalan karena bapaknya kehilangan pekerjaan.
Semua karena keegoisan mama. Semua demi bibit, bebet, dan bobot.

“Sher, mau kemana?”
Sheri mengerem sepedanya. Suara rem berdecit membuat telingaku ngilu. “Ngapain di situ?” Sheri menunjukku yang sedang bergelayutan di pohon jambu, tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku melorot turun. Selembar daun jambu kering tersangkut di ujung rambutku. Sheri menepiskannya. “Terima kasih. Mau kemana?”
“Jalan-jalan! Pulang kampung tidak bagus mendekam di kolong tempat tidur.”
“Sialan!” umpatku. Aku tahu dia menyindirku. Sudah delapan kali aku pulang, pekerjaan pokokku hanya nonton teve dan bolak-balik ke dapur mengambil camilan. Tanpa pernah sekali pun bertemu Ali.
“Ali jangan dicari. Kalau memang jodoh ketemu sendiri!” lanjut Sheri seperti mengerti jalan pikiranku. “Ikut tidak?”
Akhirnya aku ikut menggenjot sepedaku di belakangnya. Pikirku, daripada tidak ada kerjaan, bosan nonton telenovela cengeng.
“Aku dengar SMU kita direnovasi. Rasanya pengen ke situ, deh!”
Aku tersenyum pahit. Sekolah itu pasti akan mendera kenangan kami kembali. Kelas, lapangan basket, kantin… semuanya pernah ada aku dan Ali. Menuntut ilmu bersama, tertawa bersama…
“Hei! Awas, Nda!”
Aku gelagapan. Sepedaku oleng ke kanan dan menyenggol ban depan sepeda Sheri. Sheri yang ikut kaget tidak mampu menyeimbangkan sepedanya lagi. Bahu kanannya membentur bahuku cukup keras. Aku lupa menarik rem sementara kakiku menggapai-gapai mencari pijakan. Akhirnya kami jatuh tumpang-tindih. Gemercik air terdengar dari bawah. Ternyata kami ada di atas jembatan.
“Gila kamu! Anak kecil tuh!”
Aku bangkit dengan susah payah. Bahuku sedikit nyeri. Ditambah kakiku yang tertindih sepeda Sheri. Lengkaplah deritaku. “Iya, iya, aku tahu! Tapi angkat dulu barang karatanmu ini. Berat tahu?!” balasku. “Ufh, ssshhh, pelan-pelan!”
Anak kecil itu -sekitar berumur tiga tahun- mengawasi tingkah kami dengan gerak bola mata beningnya. Roknya yang kedodoran ternoda lumpur di sana-sini, begitu pula dengan kaosnya yang bergambar Doraemon. Sementara es lilin yang digenggamnya mulai mencair dan menetes lewat sela-sela jarinya.
“Namamu siapa?” tanyaku sambil jongkok di depan anak kecil itu.
“Amanda.”
“Anak ini cantik juga. Pasti bapaknya cakep ya, Sher?” kataku.
“Kenapa mesti bapaknya, sih?” Sheri mengelus-elus rambut Amanda. “Anak sekecil ini dilepas sendirian, tidak takut diculik?”
“Ini di kampung, Non! Kasihan kalau dimintai tebusan. Eh, kayaknya tumben aku lihat anak ini. Apa orang tuanya pendatang baru di sini?”
“Kalau saja ayahmu kepala desa, bukan seorang juragan,” seloroh Sheri.
“Amanda di sini sama siapa?”
“Ayah,” sahut si kecil. Mata beningnya menatap lugu. “Sama ibu juga.”
“O ya? Mana mereka? Nanti Amanda dicariin lho!”
“Ayah ada di sana!” Si kecil menunjuk seorang laki-laki di bawah sana yang membelakangi kami. Capingnya menutupi punggungnya yang setengah membungkuk.
“Manda mau diantar ke tempat ayah? Yuk, Kakak antar ke sana,” tawarku.
Anak kecil itu menggeleng. “Kata ayah, Manda harus menunggu di sini.”
“Udah deh. Pulang yuk!” ajak Sheri. Aku setuju.
“Manda jangan ke mana-mana, ya. Nanti ada orang jahat,” pesanku. Kami berlalu setelah meninggalkan lambaian pada Amanda. Sambil saling menggoda aku dan Sheri menuntun sepeda masing-masing.
“Manda bicara dengan siapa tadi?”
Tengkukku berdesir. Dalam jarak tak sampai lima meter, suara itu kutangkap sangat jelas. Itu… itu bukannya suara Ali? Aku masih hapal. Suara serak-serak basah itu miliknya. Aku menoleh secepat aku bisa. Takut suaranya langsung menghilang, seperti mimpi-mimpiku di ujung malam.
Dan aku hanya bisa terpaku.
Tubuh itu jauh lebih tinggi dan kurus dibandingkan lima tahun lalu. Kulitnya tak lagi putih, tapi gelap terbakar matahari. Garis-garis kedewasaan terpatri jelas di setiap jengkal wajahnya. Dia berubah sangat banyak. Tapi senyumnya masih yang dulu, yang pernah ia berikan untukku.
“Mereka jahat pada Amanda?”
“Tidak. Kakak-kakak itu baik. Ayah mau pulang?”
“Iya. Tuh, ibumu sudah ke sini.”
Seorang wanita muda berkebaya merah muda dan berkemben lusuh dan bertudungkan syal hijau pupus berjalan di sisi mereka sambil menjinjing keranjang bambu. Senyumnya mengembang saat Amanda menggandeng tangannya.
Aku semakin terpaku.

Seminggu berlalu.
“Aku rasa kamu harus membunuh sisa nyawa yang lain,” bisik Sheri.
“Tapi…”
“Masih pakai tapi lagi! Dia bukan lagi kebebasan yang bisa kamu raih kapan saja. Ali sudah terikat, punya tanggung jawab. Dan dia sudah punya Amanda.”
“Aku masih ingin menunggu.”
“Menunggu? Aku tunggu dudamu? Payah!” Sheri mendesah berat. “Aku rasa dia juga ingin menyimpan kenangan bersamamu. Putrinya bernama Amanda. Sama dengan namamu. Tidakkah kau sadari itu?”
Aku tercenung.
“Jangan menodai persahabatan dan kenangan kalian, Nda. Hargailah kehidupannya sekarang. Menyimpan kenangan manis tentang dia adalah cara terbaik untuk mencintai kalau kita tidak bisa memilikinya.
Sekarang dan empat tahun lalu itu berbeda, Nda. Bangunlah dari mimpi panjang, Nda. Sebagai sahabat, aku meminta. Eh, bukan, aku memohon! Bunuh harapan usang itu.”
Aku menangis lirih.
Oh, Tuhan…
Andai aku masih boleh...

* * *

Radar Surabaya, edisi Minggu, 9 Mei 2010

Di Ujung Malam

MALAM Senin yang basah.
Hujan turun sejak pukul enam sore tadi. Derasnya tidak berkurang dan menimbulkan suara berisik di atap rumah. Angin malam yang masuk melalui kisi-kisi jendela menusuk tulang punggungku. Beberapa kali ketukan ujung ranting pohon di kaca jendela memberikan irama sela di tengah derasnya hujan.
Lima belas menit jelang tengah malam. Sepertinya aku akan menjadi makhluk malam lagi, seperti dua tiga malam sebelumnya.
Monitor komputer berkedap-kedip dengan cepat. Proposal Praktikum Pembuatan Kompos ini baru selesai separuh, belum masuk ke Tinjauan Pustaka padahal buku-buku referensi sudah siap dibuka. Tinggal mencari halaman sekian agar isinya bisa aku salin. Namun kesepuluh jari tanganku hanya mengambang di atas keyboard komputer.
Aku duduk diam.
Satu menit, dua menit… dua setengah menit berlalu tanpa sedikit pun memindahkan kursor komputer. Pendar-pendar sinar monitor yang memenuhi ruang mataku seakan-akan mengurungku supaya tetap tidak bergerak.
Aku buntu. Miskin ide.
Tiba-tiba aku ingat dia. Hei, kenapa mesti dia? Bukankah aku sekarang sudah punya pacar, bahkan sudah siap menjadi calon suami? Seharusnya yang sekarang-lah yang aku ingat, bukan yang tertinggal.
Sedang apa kamu di sana? Di sana, entah di mana. Tentu saja aku tidak tahu karena kamu menghilang sejak enam tahun lalu. Tanpa alamat, tanpa berita. Surat-surat yang sengaja aku tulis tak pernah dikirim untukmu. Menumpuk begitu saja di dalam kotak harta (begitu kita pernah menyebutnya) bersama foto-foto kita yang sudah mulai menguning.
Semua karena aku masih ingin mengenangmu. Jangan salahkan aku. Tolong, jangan larang aku. Yang sesungguhnya aku rasakan tidak pernah kamu tahu. Apalagi mengharapkan kamu untuk lebih mengerti. Karena kamu begitu jauh. Ataukah karena sebenarnya kamu terlalu dekat di hatiku?
Whoooahmm…
Aku menguap sekali. Angin menerobos ventilasi, membelai leherku. Dingin. Agaknya hujan mulai reda. Tidak terdengar suara berisik lagi. Mouse kugeser ke kiri, ke kanan, lalu melingkar-lingkar. Sekali lagi aku menguap.
Aku kembali mengetik. Entahlah, apa benar yang sudah aku ketik. Peduli amat.
Pluk.
Seekor cicak jatuh di atas printer. Aku kaget. Ternyata mataku nyaris tertutup. Sampai mana ketikanku tadi?
Ugh, kenapa malam memaksa aku berpikir bukannya menuntunku untuk tidur?
Lagu. Bodoh, kenapa tidak memutar lagu saja? Barangkali mampu meredam kantukku. Banyak kaset di laci lemariku. Pop Indonesia, Barat, India -nyaris ada semua- kecuali dangdut dan keroncong. Kaset-kaset itu aku koleksi sejak SMP. Bahkan ada beberapa yang sudah jamuran namun tetap aku simpan.
Bryan Adam. Terlalu lembut. Firehouse. Yah, lumayan menghentak. Megadeth? Eh, kaset siapa yang nyasar di sini? Bukan milikku, barangkali salah seorang teman kampusku meninggalkannya di sini. Atau Ebiet G. Ade? Enggak ah, nanti tambah ngantuk. Oh, gimana kalau Bon Jovi? Tidak apa bukan? Mendengarkan slow rock tidak akan menganggu penghuni kamar sebelah yang mungkin sudah hanyut dalam sungai mimpi.
This romeo is bleeding, but you can’t see his blood… It’s nothing but some feelings, that this old dog kicked up… It’s been raining since you left me, now I’m drawning in the flood… You see I’ve always been a fighter, but without you I give up…
Aduh, kenapa Always yang pertama keluar? Hanya akan mengingatkan aku tentangnya. Bukankah ini lagu yang kamu nyanyikan saat malam perpisahan SMU? Yang khusus kamu persembahkan untukku, membuat aku tersanjung.
Kamu masih suka memetik gitar tua itu, yang kau sebut pacar kedua -setelah aku- itu? Tentu saja, musik adalah duniamu, setelah panjat tebing dan hiking. Menurutku hobimu yang lain (pasti kamu enggak sadar) adalah menaklukkan hati para gadis. Dengan senyum tanpa dosa tidak akan ada yang menolak ajakanmu. Termasuk aku.
Salahkah bila aku sering membayangkan wajahmu. Dosakah? Cuma membayangkan saja, bukan suatu pengkhianatan, kan? Sungguh, sebesar apa pun keinginanku untuk menghapus ingatan tentangmu, sebesar itu pula ketidakmampuanku untuk melakukannya. Sungguh, aku masih sangat mencintai kamu. Memang benar kata orang, cinta pertama itu tidak akan pernah mati. Yang paling berkesan. Paling manis. Sekaligus juga pahit. Seperti itulah yang pertama, bukan?
Mungkin jalan satu-satunya adalah aku ikut program pencucian otak.
Saat tidak ada kerjaan, lebih senang mengingatmu. Saat bertengkar dengan pacarku, lebih nyaman bersama bayanganmu. Menggambar jengkal demi jengkal bagian tubuhmu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menuangkannya ke dalam kanvas hatiku. Rambutmu yang panjang menggelitik, sepasang mata elang di bawah naungan alis hitam, serta bibir tipis yang selalu basah dan mengurai senyum meneduhkan. Aku hapal wajahmu. Setiap gurat di sana bisa aku ingat, berharap wajah yang aku lukis selalu tersenyum dan menyapaku di ujung malam. Tapi, apakah waktu enam tahun merubah semuanya?
Aku kangen kamu.
Kangen sapaan ‘selamat pagi’ yang selalu kamu berikan di depan pintu kelas. Kangen genggam tanganmu yang menuntunku turun dari sepeda saat mengantarku pulang. Kangen bisikan lembutmu saat membujuk hatiku. Juga lelucon konyolmu yang tidak pernah habis.
Aku kangen semua tentang kamu. Benar-benar.
Bed of Roses terdengar. Sejak kapan lagu demi lagu berganti? Rupanya aku keasyikan melamun. Keasyikan melukis kamu. Ah, peduli amat.
Tengah malam.
Aku benar-benar menjadi makhluk malam.
Sudah empat kali dalam seminggu ini. Banyak tugas baca, makalah, dan presentasi yang menguras isi kepala dan energiku. Aku sering tertidur pukul satu dinihari kemudian terjaga sejam berikutnya. Tidak mimpi. Tidak ada yang membangunkan. Ya, otomatis saja.
Sudahlah, pergilah semua bayangan tidak diundang dari kepalaku. Aku harus menyelesaikan tugas. Besok harus sudah presentasi di hadapan dosen dan teman-teman sekelas. Harus bagus, atau aku tidak boleh ikut midsemester.
Tiga buku setebal lima senti menenggelamkan kepalaku. Ini semuanya akan aku baca? Berbahasa Inggris pula. Di antara tiga buku hanya satu yang berbahasa Indonesia. Gila, memangnya aku kamus berjalan?
Kalau kamu, mungkin iya. Di SMP dan SMU, semua guru bahasa Inggris memuji kepintaranmu. Kosakata yang kamu kuasai jauh melebihi kemampuanku.
‘Dengan cara menghapal sepuluh kata setiap hari, tinggal dikalikan, maka kamu tidak akan percaya hasilnya.’
Seperti itulah yang kamu bekalkan untukku. Kamu memang pintar, kok. Salah satu kelebihanmu yang sukses menjerat hatiku.
Lagi-lagi aku memikirkannya. Ada apa ini? Lupakan. Berusahalah ingat yang lain. Ingatlah seseorang yang nun jauh di sana, yang sedang berjuang untuk kebahagiaan dan masa depanku.
Nggak bisa. Hhh, aku memang nggak mau.
Aku bosan memikirkan yang sekarang. Terlalu sering. Senyum untuk dia, waktu, bahkan sampai airmata. Aku mau penyegaran. Suasana lain, bersama yang lain. Lagipula aku tidak bersama wujud nyata, hanya lamunan. Kan, tidak salah? Becanda dengan bayangan, tidak akan ada yang tahu, kan? Kecuali Dia tentunya.
Kepalaku ini sulit dikontrol rupanya. Sekali dibiarkan bebas maka akan berkelana sebebas-bebasnya. Tidak perlu mengerti kesusahan pemiliknya. Aku sedang sibuk. Aku sedang menguras isi otakku. Mencari-cari kalimat yang pas buat proposalku.
Tombol-tombol keyboard mulai aku tekan dengan kecepatan luar biasa. Isi otakku mengalir deras dan tidak mau aku stop, karena sekali aku stop maka selamanya akan hilang. Mumpung masih segar dan mumpung pikiranku sedang konsen ke satu hal saja, kerjakan sekarang juga.
Pengertian Sampah… Pembagian Sampah… Sumber Sampah…
Apa ini? Bahasa Inggris lagi. Mana kamusku? Di mana aku letakkan tadi? Aduh, aku begini ceroboh dan tergesa-gesa. Selalu ada yang berantakan dan tertinggal. Tidak pernah teratur dan rapi. Ah, sebodo amat. Aku tidak perlu berdiskusi tentang ini.
Cepat, tinggal dua paragraf lagi. Setelah itu masuk ke Metodologi Pembuatan Sampah. Gampang, sudah ada konsep. Tinggal aku ketik dengan penambahan di sana sini sebagai pemanis. Ketua kelompok sungguh baik hati, bersedia menulis serapi ini. Mungkin dia sudah tahu kalau aku bakal kelelahan.
Krriiiinnngg!
Siapa lagi malam-malam begini?
Krriiinngg!
Pantatku terangkat. Tanganku terulur siap meraih knop pintu. Sialan, tak ada suara lagi. Siapa pula yang usil. Sukanya mengganggu ketenangan orang.
Aku duduk kembali. Lho, sepi? Ternyata kaset Bon Jovi side A sudah habis sejak lima menit yang lalu. Aku segera membaliknya.
I wake up in the morning, and I raise my weary head… I’ve got an old coat for a pillow, and the earth was last night bed... I don’t know where I’m going only God knows where I’ve been… I’m a devil on the run, a six gun lover a candle in the wind, yeah…
Setiap beat lagu itu memberikan stimulus agar aku bekerja kembali.
Jemariku terpaku di atas keyboard. Sial, ke mana semua kalimat yang sudah aku susun tadi? Pasti gara-gara dering telepon kurang ajar itu!
Kalau saja dia ada di sini pasti aku dibantu. Tangannya ringan dalam membantuku. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah bertanya kenapa, atau pun memberikan nasihat sepanjang Jabotabek.
‘Lain kali lebih teliti.’
Hanya itu katanya. Tidak lebih.
Cinta pertama. Tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Seperti sebuah drama teve yang sekarang sedang booming di kalangan remaja dan orang tua. Apa itu judulnya? Meteor Garden? Setiap kuliah kosong, di setiap sudut kelas membicarakannya. Setiap tangan memegang gambar atau fotonya. Bla, bla, bla….
Lho, malah ngelantur?
Yah, cinta pertamaku memang tidak akan habis atau memudar. Kalau dijadikan bahan novel, bisa setebal 200 halaman bolak-balik. Belum ditambah cover eksklusif dan halaman persembahan.
Waduh, otakku kacau lagi. Mungkin aku memang harus masuk program cuci otak.
Lalu kenapa putus?
Pertanyaan simpel tapi jawabannya serumit benang wol yang dijadikan mainan si Pussy. Bukan mauku untuk putus. Bukan rencanaku untuk meninggalkannya. Semua bukan bermula dari aku. Andai masih bisa memilih, aku akan memilihnya.
Bermula dari seseorang yang aku sebut ‘ibu’ dalam keluarga. Yang sudah mempertaruhkan nyawa agar aku melihat dunia, bangun di tengah malam karena aku menangis minta susu, dan mengajari ucapan ‘ayah, ibu’ sampai lidah rasanya kelu. Ibu. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.
Semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anaknya Begitulah kata nenek, tiga hari sebelum beliau berpulang. Apalagi untuk anak semata wayang yang diserahi tanggung jawab total membawa nama baik keluarga, seperti aku. Harus begini, harus begitu. Jangan bergaul dengan ini, jangan dengan itu. Aku boleh memilih tapi tetap menyesuaikan dengan keinginan ibu. Sama saja bohong, kan? Ibu mengharapkan yang terbaik untukku, tapi ‘terbaik’ menurut beliau.
Dia pintar. Dia siswa teladan. Dia luar biasa baik hati. Bak pangeran negeri antah berantah. Tidak pernah mabuk-mabukan. Mencium bau bir saja membuatnya muntah. Bukan pecandu narkoba, seperti yang sekarang merebak di kalangan pelajar. Dia bersih lahir bathin. Lalu apanya yang salah?
Keluarganya.
Menurut penilaian orang-orang di sekitarku, ayahnya bukan contoh yang baik. Seorang laki-laki yang telah menanamkan benih ke wanita yang bukan istri sahnya. Ialah ibunya. Tapi dia bukan anak haram. Dia cuma anak yang kurang diinginkan.
Napasku tersendat, sudut mataku terasa hangat.
Sungguh cengeng. Kembali ke masa-masa itu akan memaksaku untuk menangis. Bukan terharu pada keluarganya yang broken home, namun sedih akan kenyataan yang aku anggap tidak adil. Perpisahan yang tidak aku mau, begitu jauh, begitu lama…
Aku tidak yakin dia ingat bentuk wajahku. Ingat lekuk tubuhku saat melintas di dekatnya. Ingat suaraku saat aku menyapa. Atau bagaimana aroma rambutku yang dulu sering diciuminya. Waktu sudah habis demikian banyak, memberi kesempatan untuk suatu perubahan. Dan setiap manusia pasti akan mengalami perubahan, bukan?
Sudahlah.
Berhenti memikirkan hal-hal yang sentimentil. Berhenti sok romantis. Sok puitis. Hanya akan membuka luka lama. Membuatnya menganga dan berdarah lagi.
Bukan ini yang aku harapkan. Tidak. Aku juga ingin lepas dari belenggu masa lalu. Lepas dari ikatan benang merah yang pernah ia ikatkan di kelingking kiriku. Melepaskan bola-bola cinta yang merantaiku ini.
Tolong, bantu aku. Jangan hanya kau pandangi aku dari kejauhan. Jangan hanya bergerak sebagai bayangan membisu. Genggamlah tanganku untuk terakhir kali. Bisikkan suara lembutmu untuk terakhir kali.
Untuk mengucap kata ‘selamat tinggal’ untukku.
Pipiku membasah. Selalu berakhir begini.
Monitor komputer tetap berkedap-kedip. Pendar sinarnya tetap menyeruak ke dalam mataku, menambah panas.
Bon Jovi tetap menyanyi.
Dan aku tetap duduk, mencoba menyelesaikan tugasku hingga akhir.
Biarlah seperti ini.

* * *

Wakil Jawa Timur kategori Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) VI, Yogyakarta, 2001

Dalam Kegelapan Malam

NAPASNYA terengah-engah. Jalan menanjak dan berbatu itu bak tak ada ujung. Angin malam berputar tak ramah, membuatnya menggigil kedinginan. Bulan sabit menggantung di langit barat dalam kebisuan tak terbatas.
Sunyi. Senyap. Gelap.
Gadis itu berpaling ke belakang beberapa kali, penuh rasa bimbang dan takut. Ia telah terperangkap dalam keterasingan.
Sekali lagi ia berpaling ke belakang. Semoga dia tidak di sini…
Ia berpaling lagi. Gelap. Pekat…
Tiba-tiba bayangan hitam itu sudah berdiri di depan matanya, mengembangkan sayapnya yang lebar, mengeluarkan desisannya yang haus darah, dan siap menancapkan taring-taringnya yang tajam…
“Waaa… aaaaa!!!” Ira menutup wajahnya dengan kengerian yang teramat sangat. “Matikan tevenya! Matikan! Aku nggak tahan!” serunya.
Delia tergelak. “Bah, kelas dua es-em-u masih penakut,” ejeknya.
“Matiin! Aku nggak mau nonton lagi! Besok balikin kasetnya!” Ira semakin mengkeret di sofa. “Kamu aja yang nonton. Ceritain terakhirnya gimana, ya?” pinta Ira.
“Nggak usah, ya!” Delia mematikan teve lalu membuka kulkas dan mencomot sebatang Silver Queen dari freezer. “Punya siapa?”
“Eh, punyaku!” Ira meloncat dari sofa dan merebut coklat di tangan kakaknya itu.
“Nanti aku ganti. Sumpah! Ayo, minta setengah aja…”
“Nggak!!!”
“Pelit!!!”

Ira mengembangkan payungnya. Hujan yang turun sejak pukul lima pagi masih lumayan deras. Berkali-kali terdengar suara guntur membelah langit. Ira mempercepat ayunan kakinya. Ia hanya punya tiga menit sebelum kelas dimulai.
JEDUUKK!! GUBRAAKK!!
Ira terjengkang. Gadis itu terjatuh dalam posisi duduk. Payungnya terlempar ke samping. Ia tidak melihat tiang listrik yang berdiri gagah di hadapannya. Saat mengambil payung, Ira baru sadar kalau orang di belakangnya juga ikut terjatuh.
“Aduh, maaf, maaf… aku nggak sengaja!”
Cowok itu mengangkat wajahnya. Poni rambutnya yang panjang menjuntai menutupi sebagian dahinya. Cowok itu meringis geli. “Hebat, ya? Tiang listrik dilawan!”
“Haryo? Tumben jam segini masih di jalan. Bangun kesiangan?”
Haryo bangkit seraya menggosok-gosok celananya. “He-eh. Wah, basah! Padahal baru diambil dari loundry, nih! Eh, ikut payungan, dong!”
“Sudah bawa payung sendiri gitu…”
“Belum mandi, ya?”
“Apa hubungannya?”
“Ya, bau dong!” Haryo tertawa.
Ira paling senang melihat cowok satu ini tertawa. Matanya yang agak sipit seakan menjadi satu garis lurus. Lucu. Dan doi adalah cowok yang sangat baik hati. Sejak pertama Ira mengenalnya, di kelas satu es-em-u, ia selalu memperhatikan cowok itu. Saat kerja kelompok, conversation club, atau di kelas. Dan Ira boleh gembira, karena sampai sekarang pun Haryo belum punya pacar.
“O ya, kamu jadi ikut Welcome Party 2001, kan?”
Ira tercenung sejenak. “Ngg, gimana, ya…”
“Kok, jadi ragu gitu? Padahal minggu lalu kamu yang paling antusias mau ikut.”
“Soalnya, waktu itu aku… aku belum nonton film itu…”
“Film? Film apa?” tanya Haryo heran.
“Horor… aku takut,” jawab Ira lirih. Kembali melintas di kepalanya bayang-bayang hitam itu. Dengan sayapnya yang lebar… hiiihh!! Ira bergidik.
Haryo melingkarkan tangannya di bahu Ira. “Tenang, aku bisa diandalkan, kok. Drakula nggak bakalan berani ngedeketin kamu. Percaya, deh! Ikut, ya?”
Ira mencuri pandang cowok di sebelahnya itu. Seandainya kamu mengatakan itu sebagai pacarku, Yo… Ah, Ira mendesah lirih.

“Mau ke mana?”
“Kemping,” sahut Ira singkat. Tangannya sibuk menata baju dan makanan di dalam tas ransel. “Ikut?”
Delia manggut-manggut. “Kalo di hutan biasanya banyak sesuatu yang berkeliaran deh, kayaknya…” Delia menekankan pada kata ‘sesuatu’ sambil menggerakkan kedua telunjuknya membentuk tanda koma.
Ira melotot. Ia merasa kakaknya selalu usil.
Delia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, “saat kamu lengah… ia datang dari kegelapan, mengurungmu dalam kesunyian tak berujung, kemudian menancapkan taring-taringnya yang tajam dan menghisap setiap tetes darahmu… sampai mengering!”
“Delia, hentikan!! Jahat!” jerit Ira sebal. “Selama ada Haryo, aku pasti berani!”
Delia hanya angkat bahu.
“Bilang aja kamu sirik, sampai sekarang nggak ada yang naksir!”
“Weee, banyak tuh yang antre!”
“Penagih utang semua! Basi!”

Dua hari terlewati di bumi perkemahan itu.
Ira tak henti-hentinya berdoa semoga malam cepat berganti pagi. Ia sudah tidak kuat, terutama dengan udara dingin yang selalu menyiksa perut dan tangannya.
“Yo, pulangnya kapan? Aku nggak tahan, dinnggiiin…” Ira melirik jam tangannya. Jarumnya menunjuk angka dua dini hari. Pantesan dingin banget, keluh Ira.
“Sshh, besok pagi kita sudah bongkar tenda. Malam ini acara terakhir,” bisik Haryo.
Ira mengeluh panjang. Caraka Malam… tanpa sadar Ira menggigil.
“Jaketmu kurang hangat, ya? Tangan kamu kayak es.” Haryo menggenggam tangan Ira. Cowok itu melepas jaketnya. “Pakai ini, ya? Lebih tebal!” Dengan hati-hati Haryo memakaikan jaketnya ke Ira.
Ira terpaku. Haryo sangaaaatt baik. Sejenak ia melupakan bayangan menakutkan itu.
“Ayo, panitia berkumpul!!” seru Deni, ketupat Welcome Party 2001.
“Kamu ikut, ya? Nanti aku minta biar kamu satu pos sama aku.”
“Oke, pos akan dibagi menjadi empat. Ditambah dua pos bayangan. Tiap pos dijaga oleh dua orang. Kecuali pos dua dan tiga dijaga empat orang, karena nanti di sana agak berat, yang dua dari sie kesehatan. Tiga orang sebagai sweeper. Pembagian sebagai berikut, Ryan dan Meli ada di pos pertama. Sedangkan pos kedua dijaga…”
Pembagian tugas terus berlanjut. Yang sudah mengerti tugasnya segera menyiapkan perlengkapan yang sekiranya perlu dibawa, termasuk obat-obatan.
“Berangkat, Ra. Kita di pos empat, pos terakhir!” ajak Haryo pada Ira yang masih sibuk merapatkan jaketnya. “Jangan lupa sentermu. Tolong dong, sarungku itu. Ya, yang itu, yang hitam!”
Pos empat ada di balik pohon besar dengan semaknya yang merimbun dan tidak terlalu jauh dari base camp. Ira bisa sedikit bernapas lega.
“Masih dingin?” tanya Haryo. Dituntunnya Ira agar duduk nyaman di sebelahnya. “Kamu nggak pernah ikut kemping, ya?”
Ira mengangguk tanpa suara. Giginya gemeletuk menahan dinginnya.
“Jangan diam aja, dong. Kita bisa ngobrol apa aja, biar nggak ngantuk. Jangan melamun, Ra. Bahaya!”
“Dingiiinn…nnn, tau!” Cewek itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Aku sebenarnya nggak tega ngajak kamu ke sini. Tapi… ngg…”
“Ssshhh… kkeeenaa… ppaa, Yo?”
“Anu, aku ke belakang dulu, ya? Kebelet, nih!”
“Yo? Jang… jangan ninggalin aku sendirian begini, dong!”
“Sebentar aja, kok!”
“Yo!!”
Tapi Haryo sudah menghilang di balik pepohonan. Ira terpekur menatap kegelapan. Oh, Tuhan… tiba-tiba saja aku rindu terangnya lampu kota. Pada ramainya suara radio tetangga yang aku anggap norak karena selalu memutar lagu dangdut. Pada ceriwisnya mulut si Delia. Tidak terjebak dalam kepekatan seperti ini. Dingin pula.
Ira menerangi jam tangannya. Sudah sepuluh menit berlalu namun Haryo belum balik juga. Ira mulai merasa ngeri.
“Aduh, Haryo… kamu lagi ngapain? Pipis apa mandi, sih? Cepetan balik…”
“Saat kamu lengah, ia akan datang dari kegelapan, mengurungmu dalam kesunyian melam, menancapkan taring-taringnya yang tajam dan menghisap setiap tetes darahmu…”
Ira mengedarkan pandangannya. Kalimat-kalimat dari Delia kembali memenuhi kepalanya. Memicu ketakutan itu muncul lagi. Membuat tengkuknya meremang.
“Haryooo… lama banget…”
Terdengar suara gemerisik semak di belakang Ira. Cewek itu melompat dari duduknya. Senternya menggelinding entah ke mana. Matanya melotot.
“Ap-apa… apa? Si… siapppaa di situ?!”
Gelap. Sunyi. Dan senyap.
Gemerisik itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Semak-semak rimbun dan tinggi itu bergoyang-goyang. Lutut Ira bergetar. Ia ingin lari. Namun telapak kakinya terasa ditahan ribuan paku.
Angin tiba-tiba menderu. Burung hantu mulai mengeluarkan suaranya.
Semak-semak semakin bergoyang. Lalu terkuak perlahan…
Ira menahan napas. Kerongkongannya tercekik. Sayap kelam lebar itu berkibar di hadapannya. Dia mendatangiku!!! Dia akan memangsaku!!!
“Ira…??”
“Waaa…aaa!!!!” Tubuh Ira lunglai dan jatuh ke tanah. Ia tidak ingat apa-apa lagi.

Ira menggerakkan buku-buku jarinya. Ribut sekali, sih? pikirnya. Seperti pasar malam. Kepalanya terasa sakit, terutama bagian belakang. Rasanya senut-senut.
Aku ada di mana? Ini surga apa neraka?
“Tanggung jawab, dong! Kamu tuh, yang bikin dia pingsan!”
“Aku nggak bermaksud mengejutkan dia. Sumpah!”
“Bikin dia sadar, Yo! Ayo, kasih napas buatan!”
“Yeee, memang dia tenggelam?”
“Ya, sudah. Kasih ciuman pangeran, biar putri tidurnya bangun!”
“Cium! Cium! Cium!”
“Hei, hei, kalian jangan sembarangan!”
Ira menggoyang-goyangkan kepalanya. Pening sekali. Perlahan ia membuka mata. “Aduh, ada apa… ribut sekali? Waaa…!! Haryo?!”
Tepat saat Haryo menundukkan kepala di bawah paksaan teman-temannya. Ira menjerit tertahan karena wajah Haryo hanya tinggal beberapa senti saja di depan hidungnya.
Haryo tersentak bukan kepalang. Pipinya kontan memerah. “Ira? Sudah sadar, ya?” katanya buru-buru. Terdengar koor penyesalan dari belakang Haryo.
“Haryo kurang ajar! Mau apa kamu?” bentak Ira gusar.
Haryo memasang wajah memelas. “Ma-maaf, kamu pingsan karena aku. Aku nggak nyangka ternyata jadi kayak gini. Mau maafin aku kan?” mohonnya.
Ira melunak. “Aku maafkan. Eh, tadi itu mau ngapain?”
Haryo salah tingkah.

* * *

Majalah Cerpen Cinta

Tunangan

“AKU mau ditunangkan!!“
“Apa?!“ Ina melotot saking kagetnya. “Nggak salah denger, kan?! Di jaman kuda makan hamburger gini masih ada juga? Sama siapa lo?“ berondong cewek berkacamata minus itu.
Rossa meringis. “Sama anak tante Yani, Praha… “
“Tante Yani? Ooo, yang punya usaha cateringan itu, yah?! Gue kira dia nggak punya anak… “
“Praha lagi studi di Amsterdam, jarang pulang.“ Rossa menarik napas dalam. “Begitu tau aku mau ditunangkan, rasanya game over, deh! Aku pikir yang begituan cuma ada di roman picisan, eh… taunya aku sendiri yang mengalaminya.“ Rossa menepuk-nepuk keningnya.
“Kenapa elo nggak nolak?“
“Ih, boro-boro mau nolak! Dengar ucapan mama aja udah merinding. Mama bilang gini, ‘Rossa sayang, ini permintaan Mama yang pertama dan mungkin juga yang terakhir. Jadi jangan kecewain Mama, ya?‘. Nah, siapa yang nggak iba?! Lagipula, bla… bla… bla… “ Rossa nyerocos terus.
Ina termangu. Bukannya konsen ke omongan Rossa, dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tahu, sejak papa Rossa meninggal enam tahun lalu, mama Rossa yang banting tulang buat menghidupi keluarga, dan tante Yani ikut membantu. Mungkin itulah alasan utama kenapa Rossa nggak bisa menolak. Atau mama Rossa sudah ngebet pingin punya momongan, atau… takut putri semata wayangnya jadi perawan tua? Ih, Ina buru-buru menepis pikirannya yang terakhir itu.
“Kenapa, Na? Kamu ngerti omonganku, kan?!“
Ina manggut-manggut bak burung pelatuk sambil nyengir. Anggap aja doski pendengar yang baik. Tiba-tiba Ina ingat sesuatu. “Terus, si Teddy mau elo kemanain?“
Rossa mencibir. “Ada hubungan apa aku sama si jelek itu? Dia aja yang kege-eran. Lagian, doi udah out of date, tuh! Kalo’ kamu mau, ambil aja! Cintrongnya aku transfer ke kamu, deh!“
Ina melongo.
Edan ini anak! Cinta mau ditransfer? O’o, mungkin tahun ini terlalu canggih dan siapa tau cinta itu nanti bisa dikirim lewat fax atau e-mail, yah?! Ina segera sadar kalau mulutnya terbuka dari tadi. Maka sebelum segala sesuatu dan lain hal masuk tanpa permisi, Ina segera menutupnya.
“Sejak SMP kami nggak pernah ketemu lagi. Tante Yani pernah pindah ke Bandung dan pas balik ke sini, ternyata Praha udah diekspor ke Belanda, tinggal sama omanya!“ papar Rossa tanpa diminta.
“Ngomong-ngomong, cakep nggak anaknya?“ tanya Ina.
Rossa merogoh saku kemejanya, mengambil foto ukuran postcard. Diangsurkannya ke depan hidung sahabatnya itu.
“Nih, baru keluar dari kamar gelap!“
Ina membelalak tak percaya. “Ini?! Gila, produk macam gini mah, keluarnya sepuluh taon sekali, cing!“
Nah, lo! Bisa nggak ngebayangin gimana tampangnya si Praha?
Rossa senyum-senyum. “Naksir nih, ceritanya?“
“Hemm, pantesan elo setuju aja. Kucing mana yang nggak mau ikan asin. Tampang super kiyut gini nggak bakalan ada yang nolak!“ kata Ina sambil garuk-garuk kepala. Kacamatanya sampai melorot ke ujung hidung.

Rossa menggebrak pintu dengan tenaga Rambo. Ina yang sedang menggantung baju di balik pintu langsung terjengkang dengan sukses.
“Hoi, ketok pintu dulu, kek! Main serobot rumah orang!“ umpat Ina seraya mengelus-elus jidatnya yang benjol kena kaki meja. “Ada apa? Pagi-pagi udah bertamu. Katanya elo ada kencan sama tunangan elo itu. Perang Dunia ketiga, ya?“
“Aku sebel! Sekali sebel, tetep sebbbeeelll!!!“ lengking Rossa hampir tujuh oktaf. Buru-buru Ina membungkam mulut cewek itu sebelum digerebek orang sekampung. Dikira ada apaan pakai acara jejeritan segala.
“Sebel kenapa? Praha asli lain banget dengan fotonya?“
Rossa menggeleng.
“Praha nggak kenal elo?“
“Bukan itu!“ sanggah Rossa sengit.
“Lalu, apa? Praha menolak dijodohin ama elo?“
“Salah semua! Praha itu… dia… “ Rossa mengatur naik turun dadanya. “Praha itu… dia… banci!!“
Ina terdiam. Rossa apalagi. Pelan Ina meraba kening sahabat karibnya itu, mungkin aja kesambet jin daerah mana sehingga omongannya agak kacau. Rossa menepiskannya dengan sewot.
“Aku normal! Nggak kesambet jin atau kucing!“
“Terus?“
Rossa menghela napas berat, seberat-beratnya. “Aku bilang Praha banci ya, banci! Aku hampir semaput begitu mendengar cara dia ngomong. Genit banget! Kamu tau dia ngomong apa?“
Ina jelas saja menatap bingung.
“Doi bilang, ‘Aih, ik surprise deh, liat you! Ik nggak nyangka ternyata you secantik ini!‘. Aku kaget setengah mampus. Ini Praha apa Pretty Woman? Kalau saja di situ nggak ada mama, pasti sudah kugaplok mulutnya. Mual aku mendengar suara itu!“
Ina menunggu sampai Rossa menyelesaikan laporannya.
“Terpaksa aku mau diajak keluar sama dia. Ih, pas aku perhatiin jalannya, Na! Lebih feminim dari aku! Pantatku aja nggak egal-egol, tapi dia… hhh!“ Rossa menggerutu panjang pendek sampai wajahnya memerah.
“Elo nggak nanya kenapa dia mau ditunangkan ama elo?“
Rossa mengangguk. “Ya. Aku udah nanya gitu. Tau jawabannya? Gini, ‘Sejak pertama liat you di foto, ik sudah fall in love sama you. So, ik oke-oke aja dijodohin ama you!‘. Bete, nggak?!“ jawab Rossa.
“Wah, wah, love at the first sight, nih! Gue kalah, deh!“
“Masa’ tunanganku bencong, Na? Kamu tolongin aku, dong!“ Rossa mulai merengek.
“Yah, harus gimana lagi? Dia juga nggak pengen dilahirkan kayak gitu, kan? Elo berdoa aja biar ada keajaiban dari sana!“ Ina menunjuk ke atas. “There can be miracle, when you believe…, “ senandungnya.
“Tapi… tapi dulu Praha nggak begitu, kok!“ sangkal Rossa pelan.
Ina hanya angkat bahu. Lalu gadis itu ngeloyor pergi.
“Mau ke mana, Na? Tolong, kek!“
Sambil jalan Ina menyahut, “gue mau semedi dulu. Perut gue mendadak sakit denger cerita elo!“ Kemudian ditutupnya pintu WC dengan keras.
Tinggallah Rossa yang menyumpah-nyumpah sendiri.

Rossa terpaku di tempat duduknya, sementara tante Yani terisak lirih menahan tangis. Sedangkan mama Rossa sibuk menarik tissue dari untuk diberikan ke tante Yani.
“Tante nggak menyangka bakalan begini, Ros. Maafkan Tante, ya?!“ kata tante Yani di sela isak tangisnya.
“Sudahlah, Yan. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri,“ hibur mama Rossa dengan sabar.
“Saya merasa terpukul, Mbak. Saya tidak pernah mengira kalau Praha akan tumbuh menjadi… “
Bencong, cetus Rossa dalam hati.
“Ah, saya malu, malu sekali, Mbak! Mungkin ibu terlalu memanjakan dia. Jiwanya menjadi lembek dan feminim begitu, Mbak!“
Mama Rossa hanya menepuk-nepuk bahu tante Yani.
“Rossa bisa mengerti perasaan Tante. Jangan menyalahkan siapa-siapa. Jika Tuhan mengijinkan, Praha pasti sembuh, eh… berubah. Dia perlu dukungan dari orang-orang yang mencintainya, Tan… “
Tante Yani menatap gadis di depannya itu dengan kagum. Sungguh ia kagum dengan kelapangan hati Rossa yang mau menerima apa adanya.
Sumur dapat diukur dalamnya, tapi tidak isi hati orang. Rossa berkali-kali mengumpat. Kenapa aku bisa ngomong macam gitu, yah?! Udah gila, apa? Padahal tujuh turunan pun aku nggak mau bermimpi punya calon suami banci. Rasanya mission impossible bisa merubahnya menjadi manusia normal lagi. Rossa menggerutu panjang pendek.
Dan Rossa hanya tersenyum kecut ketika tante Yani memeluknya dengan penuh haru. Oh, Tuhan, inikah jalan hidup yang Engkau berikan untukku? Ah, nasib, nasib…

Suitan-suitan panjang berkumandang saat Rossa keluar dari mobil itu, Charade merah mengkilap yang dikemudikan Praha. Ini bukan yang pertama Rossa diantar jemput oleh tunangannya itu. Mungkin yang ke sepuluh kalinya. Tapi tetap saja menjadi pusat perhatian.
Berpuluh pasang mata mengamati mereka. Entah mengamati mobil Praha yang memang keluaran anyar atau mengamati pasangan baru itu, Rossa dan Praha. Yang jelas satu yang dirasakan Rossa, risih dan keki.
“Sampai di sini saja, ya? Kamu nggak usah ikut ke dalam, Pra, “ pinta Rossa menahan malu.
“Why? Biasanya ik juga ikut masuk. Ik cuma ingin memastikan kalau you sampai di kelas dengan selamat,“ kata Praha dengan sopan.
Namun bagi Rossa, sangat menyebalkan
“Selamat? Ini, apa namanya?! Kakiku masih ada dua, mata juga nggak bolong! Memangnya di dalam sana ada teroris kesasar?! “ sergah Rossa ketus.
Tiba-tiba Teddy melintas dengan sepeda motor bututnya. Di depan Praha ia berhenti. “Ros, kalau mau adu mulut, jangan di sini. Malu tuh, diliatin anak-anak lain!“ celetuknya. “Eh, gandengan baru elo, ya? Boleh juga, sayang… “ Teddy mengulum senyum nakal.
Rossa mendelik sewot. “Kamu jangan ikut campur urusan dalam negeri orang, ya?! Sana, masuk! Reseh!“
Teddy langsung mingkem dan menuntun sepedanya ke pelataran parkir. Sementara Rossa bergegas masuk gerbang sekolah. Praha yang merasa digratisin nekat mengejar. Rossa melebarkan langkahnya.
“Ros, tunggu ik, dong!“
“Aih, aih, rupanya Romeo sedang mengejar Juliet, nih! Hei, larinya yang gagah, dong!“ seru cewek berbuntut kuda. “Yap, Sodara-sodara! Saksikanlah, kejar-kejaran paling mendebarkan abad ini! Pemain nomor punggung 0 mengejar pemain nomor 1! Oke, penonton harap tenang, karena ini bukan WCW! Ya, tinggal selangkah lagi dan… dapat!!“
Praha mencekal pergelangan tangan Rossa.
“Aku malu, Pra. Kamu pulang aja sebelum ada masalah di sini,“ pinta Rossa lemah.
“Kenapa, sih? Dari kemarin kamu ketus padaku? Apa tindakanku ada yang salah?!“
Rossa terperangah. Itu tadi suara siapa, yah? Praha?! Belum tuntas keheranan Rossa pada makhluk hidup kece itu, Teddy nongol lagi dengan cengar-cengirnya.
“Ros, nggak salah pilih, nih? Cowok macam beginian kamu bawa-bawa ke sekolah. Jangan ngejatuhin kredibilitas sekolah kita, dong! Masa’ kamu cuek sama aku cuma demi cowok model begini? Nggak level, ah!“ cerocos Teddy bak petasan renteng.
Wajah Praha yang biasanya setenang air danau, sekarang mulai menegang. Apalagi ketika dilihatnya Teddy menggandeng tangan Rossa dan mengajaknya pergi dari situ.
“Kamu bilang apa tadi?! Jaga mulut dan kelakuan kamu itu!“ bentak Praha gagah.
Rossa semakin takjub dan tidak bisa berucap apa-apa. Hanya matanya yang bergerak-gerak tak berkedip. Inikah Praha yang sebenarnya? Lalu banci itu…?
“Memang kenapa kalau gue ngomong begitu? Elo merasa tersinggung, ya? Dasar elo banci!“ tantang Teddy berani. “Egal-egol pantat bebek, si bencong merengek-rengek!“
Yang mendengar ejekan itu kontan tertawa riuh. Mereka seolah-olah sedang menonton permainan badut pasar malam. Dan Praha sebagai badutnya.
Akhirnya Praha tidak tahan lagi. Dengan sekali hentak ditariknya krah baju Teddy. “Coba katakan sekali lagi, kalau kamu berani!“ desisnya marah.
“Egal-ego, pantat beb… “
BUG! BUG! BUG!
Belum tuntas kata-kata itu meluncur, tiga bogem mentah sudah membungkam mulut Teddy. Cowok tengil itu langsung tersungkur mencium ibu pertiwi. Tapi dengan cepat ia bangkit dan membalas. Praha tidak sempat menghindar. Sebuah pukulan mampir di rahang kirinya. Sudut bibirnya pecah dan berdarah. Kamu hawa menjerit ngeri.
Suasana pagi semakin riuh. Perkelahian itu bukan milik mereka lagi.

“Aaaa, pelan-pelan… “
Praha mengerang lirih saat bongkahan es itu menyentuh pipinya. Nyerinya luar biasa dan meninggalkan bekas membiru. Praha memejamkan mata mencoba meresapi kesejukan yang merayapi tubuhnya.
“Kamu puas kan, Ros? Aku sudah dihina habis-habisan di depan semua teman sekolahmu!“
Rossa tidak menjawab. Hanya tangannya yang bekerja. Dengan lembut dikompresnya luka-luka Praha.
“Kok, diam, Ros?“
Rossa mengangkat wajahnya. Matanya beradu dengan mata elang Praha yang juga menatapnya lekat. Buru-buru Rossa berpaling sebelum ketahuan kalau wajahnya memerah.
“Aku tidak tahu kalau kamu hanya pura-pura… “
Praha tertawa renyah. “Yeah, memang aku juga yang salah, nggak bisa menahan emosi. Padahal seperti itulah resikonya. Bulan depan teater sekolahku akan mengadakan pertunjukan drama dan aku kebagian peran banci,“ jelas Praha.
“Dan kamu sudah berhasil menipu semua orang, termasuk mamamu!“ kata Rossa geli. Ia jadi ingat saat pertama cowok itu menyapanya dengan gaya… ah, Rossa jadi ingin tertawa kalau mengingatnya.
“Kamu masih marah padaku, Ros?“
Rossa menatap Praha, mencoba menentang tajam mata itu. Kenapa aku harus marah, pikirnya. Bukankah ini anugerah terindah yang sudah Ia berikan untukku?
Praha mengubah posisi duduknya. Kini ia bisa leluasa menikmati bias-bias merah yang menjalari wajah Rossa.
“Jangan memandang aku begitu, ah!“ tegur Rossa.
“Kenapa? Malu?“ Praha tersenyum kecil. “Kamu pernah pacaran?“
Rossa mengangguk pelan.
“Jatuh cinta sering, dong?“
“Ah, nggak juga. Aku orangnya susah jatuh cinta!“
Praha meremas jemari tangan Rossa. Rossa tidak mengelak. Ia membiarkan hatinya ikut terbawa suasana romantis itu. Membiarkan sesuatu yang baru merambati relung-relung hatinya.
“Susah juga untukku? Aku mencintai kamu, Ros. Sejak dulu aku sudah bertekad kalau kamu harus jadi milikku,“ bisik Praha.
Praha mengecup lembut kening Rossa. Hangat. Rossa merasakan gemuruh yang kuat memukul-mukul pintu hatinya. Cinta Praha menunggu pintu itu dibuka.
“Aku juga, Pra… “
Dan pintu itu pun terbuka.

* * *

Pemenang III Lomba Cipta Cerpen se-Bali dan Nusa Tenggara Tingkat Pelajar Theater Angin SMU I Denpasar/ 1998

Tragedi Cinta Segitiga

“AMBOI, gacoan elo keren banget, Nda!“ pekik Arini.
“Yang ke berapa, tuh?!“
Manda buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir sambil melirik seorang cowok yang mondar-mandir di depan counter kosmetik. Teman-temannya langsung mengerti.
“Kami jadian baru tiga hari yang lalu. Dan ini mungkin pertemuan kami yang terakhir. So, kalian harus ngejaga reputasiku di depan doi! Jangan bikin aku malu, oke?!“
“Reputasi elo dalam menaklukkan cowok?“ sindir Arini.
“Elo jangan begitu, Rin!“ tegur Dewi. “Memangnya doi mau ke mana?“
“Doski mau ngelanjutin studi di Perth. Australia sono, tuh!“ Manda tersenyum bangga. “Ciamik, kan? Udah kece, kualitas terjamin lagi!“
“Kenalin ke kita-kita, dong!“ pinta Dewi.
“Boleh. Tommy, sini, deh!“
Yang dipanggil langsung menoleh. Seulas senyum manis mejeng di bibir tipisnya. Lalu ia mendekati Manda and friends.
“Hai,“ sapa cowok itu ramah. Aih, suaranya dingin-dingin empuk lagi!
“Kenalin, temen-temen sekolahku. Yang ini Dewi dan sisanya itu, Arini!“
Mereka berjabatan tangan.
“Eh, makan, yuk! Kalian pasti lapar, kan?“
Ketiga cewek itu langsung ber-high five. Tanpa perlu ajakan kedua mereka segera mengekor Tommy.
“Cowok elo royal banget, Nda! Nggak sedih ya, ditinggal begitu jauh?“ Dewi kembali bisik-bisik.
Saat itu mereka sudah ada di salah satu sudut KFC, sementara Tommy sedang memesan makanan.
“Ya, iyalah! Tapi, masa’ aku harus numpahin airmata di depan doi? ‘Ntar dianya yang kege-eran!“ sahut Manda enteng.
“Emangnya elo tahan hidup sendirian, nggak ada yang ngapelin, dan nggak ada yang nraktir makan?“ selidik Arini yang sudah maklum dengan tabiat sahabatnya satu itu. Asli, playgirl banget!
Manda hanya nyengir. “Yang itu, kayaknya nomor sekian!“
Mereka kembali diam karena Tommy sudah kembali. Dengan manis, ketiganya memasang senyum bidadari.

Manda sedang nangkring di pohon jambu depan rumahnya. Di tangan kanannya ada segenggam kacang goreng, sedangkan di tangan kirinya ada setumpuk amplop biru dan pink.
”Gila, baru juga seminggu Tommy nggak ada, sudah segini yang ngelamar!“ gerutu gadis itu. Satu-satu dilemparkannya kacang goreng ke mulutnya, lalu dikunyahnya pelan.
“Seandainya kau ada di sini denganku, mungkin ku tak sendiri, bayanganmu yang selalu menemaniku… Busyet! Masa’ ada teks lagunya segala? Hei!“
Angin bertiup cukup kencang dan surat yang dibaca Manda ikut terbawa. Surat biru itu landing dengan sempurna di bawah pohon jambu. Manda melongok ke bawah, mencari-cari posisi surat itu. Saat itulah, ia melihat sebuah kepala celingukan di bawah kakinya. Kepala berambut pirang itu pasti milik… cowok!
Manda melompat turun. Hup!
Si rambut pirang mundur dua langkah karena kaget. “Tarzan?“ tanyanya dengan logat asing di telinga Manda.
Monyet! Gue cantik begini dikira Tarzan, umpat Manda dalam hati. Namun doi cepat menguasai keadaan dan tahu akan bicara dengan siapa.
“No, I’m just a girl. Don’t worry, gue nggak bakalan ngegigit elo! Can I help you?“
Cowok itu tersenyum tipis. “You’re so kind. I’m Michael. How do you do?“
Manda menyambut sumringah. “I’m Manda. How do you do?“
“I’m looking for Mr. Anwar’s house. Do you know where it is?“
“Oh, Mr. Anwar. He’s an oculist, isn’t he?“
Michael mengangguk mantap.
“That’s his house! Huuu, punya mata nggak dipake’!“ Manda menunjuk rumah bercat putih di depan rumahnya sendiri.
Michael tersenyum puas. Untung doski nggak ngeh dengan ucapan Manda yang terakhir. Coba kalau dia tahu?
“I’m his penpal!“ jelas Michael tanpa diminta.

Sudah hampir dua minggu Manda berteman dengan si bule yang ngakunya berasal dari Kentucky itu. Lama-lama Manda merasa fall in love dengannya. Manda mulai membanding-bandingkan Tommy dengan Michael.
Keduanya sama atletis, sama tampan, dan memikat. Tapi Tommy suka ngaret dan simpel, sedangkan Michael on time dan romantis abis. Walaupun si bule kece itu nggak pernah saying I love you, Manda yakin perasaan mereka sama.
Suatu hari Manda mengajak Michael jalan-jalan ke mal. Cowok itu sih, oke-oke aja diajak jalan ke mana saja. Asal nggak diajak nyebur sumur bareng!
“Wuih, makhluk planet mana, nih? Kok, bisa nyasar ke sini?“ seru Arini heboh. Dewi di sebelahnya ikutan melongo. Manda memang tidak sengaja bertemu duo ceriwis itu di mal.
“Eh, bukannya makhluk planet! Tapi makhluk impor!“ ralat Dewi konyol. “Kali aja doi masih tetanggaan ama Leo Di Caprio, yah? Siapa tau bisa titip tanda tangan,“ bisiknya kemudian.
Manda hanya mesam-mesem mendengar komentar teman-temannya. Dengan manja ia bergelayut di lengan Michael yang kokoh.
“Gacoan baru, Nda?“
“What’s gacoan baru?“ tanya Michael linglung. Dewi dan Arini menjadi salting.
“Oh, nothing. Gacoan baru is a greeting for us,“ jawab Manda yang jelas ngibul. “By the way, they’re my best friends, Dewi and Arini!“
Mike tersenyum ramah.
“Elo nggak takut sama… itu, lho…“ bisik Arini.
“Alaaa, orangnya jauh di mata gitu, kapan baliknya juga nggak pasti!“
“Elo benar-benar… “ Dewi menunda ucapannya. Tatapannya lurus ke depan, ke balik punggung Manda dan Michael. Bibirnya bergerak-gerak menyebutkan sebuah nama.
Wajah Manda langsung pias. Tangannya terlepas begitu saja dari lengan Michael. Namun ia belum berani menoleh.
“Beb-benar itu… dia?“
Dewi dan Arini menganguk bareng. Tambah Arini, “elo nggak dikabari kalau doi sudah pulang ke tanah air?“
Manda meneggeleng kaku. Perlahan ia membalikkan badan, bersamaan dengan terdengarnya sebuah seruan gembira.
“Hi, Tommy! Nice to meet you here!“ seru Michael riang. Dengan wajah berseri ia menyalami Tommy.
“Hi, Mike! How are you? What are you doing in Indonesia? I can’t belive that we meet here!“ berondong Tommy.
“Yeah, me too! Oh, she’s my girlfriend, Tom!“ Mike menarik tangan Manda yang sebenarnya sudah siap-siap kabur dari tempat itu. “What do you think about us?“
Manda tersentak bak disengat ribuan lebah. Sejak kapan bendera percintaan mereka berkibar dengan resmi?
“Tom, jangan percaya ucapannya. Ini salah paham… “ sanggahnya.
“Manda? Kamu dan Mike, apa?!“ Tommy mengucek-ucek matanya, tak percaya sekaligus setengah shock.
“Eh, biar aku jelasin dulu… “ Manda mulai kewalahan.
“Hei, kalian sudah saling kenal rupanya. It’s great!“
“Great apanya? You know, she’s my girlfriend, too! Kita udah ditipu mentah-mentah!“ sembur Tommy garang. “Come on, Mike! Kita rayakan pertemuan ini di rumahku!” Tommy menyeret si bule itu dari situ.
“But.. but how’s Manda?“
“Ah, biarin aja! O ya, Manda, kita the end!“
Manda menunduk dalam-dalam. Satu penyesalan menitik di sudut hatinya. Kata hati ingin memeluk dua gunung, apa daya keduanya lari!
“Cinta segitigamu benar-benar tragis, Nda!“ bisik Dewi.
“Yeah, goodbye, boys…, “ desah Arini lirih.
Manda semakin menunduk.

* * *

Harvest Fan Club no. 115/ 1998

Jumat, 12 Maret 2010

Yang Pernah Ada

HUJAN gerimis turun sejak pagi tiada henti. Langit tertutup awan hitam. Tidak ada awan-awan putih berarak menghiasi langit biru. Yang ada hanyalah tetes-tetes air yang menciptakan suara berisik di atap rumah. Angin berhembus dingin menusuk tulang.
Aku duduk sendirian di dalam kamar ini. Terasa begitu membosankan. Dan aku hanya bisa duduk bertopang dagu di depan jendela. Hanya bisa memandang genangan-genangan air yang mulai terbentuk. Atau memandang anak-anak kecil yang asyik bermain air. Hanya bisa menjadi penonton, mungkin sampai hujan berhenti nanti.
Sehelai daun kering yang sekarang sudah agak basah oleh air hujan melayang di depan mataku. Perlahan-lahan ditingkah hembusan angin. Kupandangu sampai daun itu menyentuh tanah dan tergolek pasrah. Tiba-tiba aku ingin membuka kembali kenangan-kenangan yang pernah aku buat bersama orang-orang yang aku kenal, terutama kamu, Ega.
Ega. Nama yang akrab di telingaku. Sampai kapan pun tidak akan aku lupakan. Kamu satu-satunya cowok yang telah memberiku sebuah persahabatan yang tulus. Kamu lain dengan mereka, Ga. Sampai akhirnya aku bisa mengerti apa arti persahabatan itu bagi kita.
Awal aku mengenalmu adalah di sekolah, temoat kita belajar bersama. Kamu yang nakal dengan rambut agak gondrong, sableng, dan suka berkelahi. Kamu suka sekali menarik-narik kuncir rambutku. Iya kan, Ga? Kamu jua yang paling berani menempelkan permen karet di kursi guru, sehingga kamu di-skors tiga hari. Kamu memang badung, Ga!
Pernah kamu menyembunyikan Diktat Kimia milikku. Dan gara-gara ulahmu aku dihukum di depan kelas. Sedangkan kamu? Kamu cuma memamerkan barisan gigimu yang putih itu. Waktu itu aku sebal sekali melihat tingkahmu.
“Ega brengsek!” umpatku saat jam istirahat.
“Aduh, anak manis! Jangan nangis. Nanti Kakak belikan permen, ya? Atau es krim?” Kamu cengar-cengir, menyebalkan.
“Ega!!”
“Iya, ada apa, Sayang?”
“Kamu… pokoknya aku benci Ega!” teriakku dengan kesal.
“Oke, mau berapa minggu?” Dengan kalem kamu malah menantangku. Akhirnya aku memilih diam. Kamu tahu aku paling nggak tahan diam lama-lama sama kamu. Dan kamu semakin nakal, terutama kepadaku. Bukannya aku benci kamu, hanya saja sikapmu kadang membuat aku jengkel setengah mati.
Di balik itu, aku tahu kamu anak yang baik sebenarnya. Kamu punya rasa setiakawan yang tinggi di antara teman-teman satu geng. Kamu pun bisa menjaga kekompakan bersama mereka. Kamu ingat, Ga? Kamu pernah menolongku dari gangguang anak-anak berandalan. Padahal saat itu kita baru saja bertengkar karena kamu menarik kuncir rambutku terlalu kencang sehingga pengikatnya lepas.
Kamu sendirian, sedangkan mereka empat orang. Tapi kamu berusaha bertahan walau tubuhmu babak belur. Dan kamu tentu ingat, betapa histerisnya aku saat rahangmu terkena pukulan salah seorang dari mereka. Bibirmu pecah dan berdarah, Ga. Aku hanya bisa menangis. Untunglah bantuan segera datang. Teman-temanmu membantu dan anak berandalan itu langsung kabur. Ega, aku akui kalau kamu memang sahabat yang baik.
Sejak itu kamu tidak nakal lagi. Kamu menjadi cowok yang kalem. Mungkin karena kamu tekah diberi kuliah panjang lebar oleh bapak kepsek gara-gara perkelahian itu. Ingat dengan janji itu? Janji yang au ucapkan dengan lantang di depanku. Kamu berjanji akan melindungi dan juga menjagaku walau bertaruh nyawa. Aku tertawa mendengar itu, tapi mimik mukamu begitu serius. Aku hanya bisa angkat bahu.
“Fris, ikut kemping, yuk!” ajakmu suatu kali. Anak-anak Pecinta Alam memang akan mengadakan kemping dan kebetulan kamu ikut di sana.
“Tapi nggak ada lampu hijau dari mama, Ga!”
“Santai aja. Biarkan aku ngomong dan kamu akan bisa berangkat!”
“Emang bisa?” tanyaku ragu. Kamu tertawa sambil menepuk-nepuk dada. Kamu yakin dengan kemampuanmu. Dan ternyata berhasil! Aku sampai heran mengapa mama bisa percaya sama orang macam kamu. Entah jurus dan jampi-jampi apa yang kamu pakai. Sampai kini pun aku tetap tidak tahu.
Kamu telah membawaku ke dunia remaja yang memang seharusnya aku nikmati. Bersamamu aku bisa tertawa meski hatiku sedang gundah. Hanya kamu yang mampu membuatku tersenyum dengan segala tingkahmu yang konyol dan kocak.
Kamu ingat kan, Ga? Saat kita main petak umpet, kamu bersembunyi di kloset. Lantai yang licin membuatmu terpeleset. Seketika kamu menjerit ketika kaki kirimu masuk ke dalam kloset yang baunya minta ampun. Ternyata kamu juga anak yang ceroboh!
Tapi menjelang satu tahun usia persahabatan kita, kamu menghilang. Kamu tidak pernah bicara apa-apa. Tentang pindah sekolah atau pun berhenti sekolah. kamu juga tidak menitipkan surat yang sapat aku jadikan petunjuk ke mana kamu perhi, apalagi mengucapkan selamat tinggal. Kamu tega sekali, Ga!
Aku mencarimu ke mana-mana. Aku cari ke rumahmu, semua tetanggamu mengatakan kalau keluargamu sudah pindah. Entah ke mana.
Sampai akhirnya aku mendengar kabar dari teman se-geng-mu. Katanya kamu pergi dari rumah. Kamu telah menjadi korban broken home. Dan kamu memilih jalan sendiri daripada ikut salah satu orang tuamu. Kamu punya prinsip. Tapi tak masuk di akal, Ga! Apa yang dapat kamu lakukan hanya dengan pendidikan SMU yang tertunda? Apa, Ga? Kamu benar-benar bodoh!
Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya menyesalkan tindakanmu yang bodoh itu. Aku hanya bisa berdoa agar kamu selalu diberi keselamatan oleh-Nya dan tidak melupakan tali persahabatan kita. Terlalu indah, Ga. Setidaknya kamu ingat bahwa kamu pernah mendengar ada seorang gadis bernama Friska.
Kapan-kapan kembalilah ke sini, ke kota yang indah ini. Aku ingin mendengar tawa lepas seorang Ega dengan segala tingkah polahnya yang konyol. Andai kamu tahu…
Aku mendesah perlahan. Hembusan angin semakin keras. Dahan-dahan pepohonan bergoyang-goyang. Gerimis itu telah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Anak-anak itu pun sudah tidak ada lagi. Dengan enggan kututup daun jendela. Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan. Mataku nanar menatap langit-langit kamar. Di sudut hatiku ada kerinduan pada seorang sahabat yang entah di mana.
Ega.
Nama itu kembali terngiang-ngiang di telingaku.

* * *

Harvest Fan Club no. 108/ 1998

Dia Kakakmu, Rei!

"Ki, ngebakso, yuk! Lapar!!”
“Okelah!”
Dua orang gadis manis berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang lengang, menuju kantin. Yang berambut cepak ala Demi Moore dalam Ghost dan tinggi semampai (bukan semeter tak sampai, lho!) bernama Rei. Sedangkan yang lagi seorang, adalah seorang cewek berambut panjang sebahu dengan kulit putih, menyandang nama Kiki.
Kini mereka sudah berada di kantin sekolah. Mereka memilih meja di pojok, tempat strategis yang biasa digunakan untuk ngecengin cowok ganteng. Saat itu semua anak sudah pulang. Sepi dan tenang. Dua mangkok bakso sapi terhidang di hadapan Rei dan Kiki. Mulailah mereka makan sambil ngobrol ngalor-ngidul.
“Tahu nggak apa yang gue liat tadi pas jam istirahat kedua?” tanya Kiki sambil menyeruput kuah baksonya. “Gue liat si Andi ngelaba sama Intan!”
Sebagai pendengar yang baik, Rei berkomentar, ”Super playboy gitu emang nggak bisa diikat! Tentu saja karena manusia bukan sapi!”
Hening beberapa saat lamanya. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan mangkok bakso.
“Lo juga tau nggak yang gue liat?” Rei memecah keheningan. “Heeeboohh!” tambah Rei membuat Kiki makin penasaran. “Gue liat cowok… keereeen!” seru Rei sambil memutar jari telunjuknya.
Kiki melongo. Cewek satu ini memang paling demen kalau mendengar kata cowok keren, macho, bin tajir. Aih, cowok maniak kali!
“Tuh cowok, kereennn banget… motornya! Harley Davidson, man!” Rei tergelak. Kiki memonyongkan bibirnya begitu tahu dia ditipu.
Tiba-tiba pembicaraan itu terhenti. Mata mereka terpaku pada sosok tubuh atletis yang sedang berjalan menuju kantor kepala sekolah.
“Gile! Itu baru cowok, cing!” komentar Kiki heboh. Disikutnya Rei yang saat itu sama bengongnya. “Eh, Nek! Kalau bengong jangan kelewatan. Itu mulut apa ember! Lalat lewat tuh!”
Rei tersungut-sungut.
Kedua cewek itu cepat-cepat menghabiskan baksonya. Ada obyek yang harus mereka buru. Mumpung merekalah first ladies yang melihatnya.
“Kuntit yuk, lagi sepi, nih!” ajak Kiki. Rei mengangguk setuju dengan semangat ’45. Masalah begini merekalah jagonya. Setelah membayar baksonya, kedua gadis itu melesat ke kantor kepsek.
“Ki, intip dari bawah jendela ini aja!” usul Rei.
“Nah, mulai besok Nak Bebe resmi menjadi siswa SMU 07 ini. Kamu mendapat kelas 2A!”
“Terima kasih, Pak. Saya akan menjadi siswa yang baik.”
“Baiklah kalau begitu. Masalahnya sudah beres sekarang. Oh ya, salam buat ayahmu, ya!”
“Baik, Pak. Permisi.”
Rei dan Kiki yang asyik nguping segera kabur sebelum tertangkap basah. Besok pagi, mereka bakalan menjadi pusat perhatian. Merekalah orang pertama yang menyebarkan berita itu. Bahwa kelas mereka kedatangan makhluk kece dan macho, bernama Bebe.

Keesokan harinya, 2A benar-benar heboh, terutama kaum cewek. Rei dan Kiki dikerumuni semua anak cewek kelas 2A.
“Pokoknya kita-kita bakalan kepincut, deh! Kiki meyakinkan dengan gaya khasnya.
“Siapa namanya?” tanya Dewi penasaran.
“Bebe!” jawab Rei.
“Hah? Bau badan?” tukas Lala dengan bego.
“Bau badan lo! Bukan bau badan, tapi B-E-B-E!” jelas Rei.
Kegaduhan itu segera mereda begitu pak Narto masuk kelas dan mengetuk-ngetuk papan tulis dengan penghapus. Tapi bisik-bisik kembali merebak begitu melihat siapa yang ada di belakang pak Narto. Semua mata tertuju ke depan kelas.
“Pagi, Anak-anak! Hari ini kalian kedatangan teman baru. Kenalkan Bebe Kusuma Aditama. Dia pindahan dari Surabaya. Bapak harap kalian bisa membantunya beradaptasi. Nah, Bebe, silakan duduk di bangku kosong dekat jendela itu!” kata pak Narto mengakhiri acara perkenalan.
“Ssstt, Rei! Doi duduk di depan kita, lho! Ini keberuntungan namanya. Siapa tau kita bisa nyontek ke doi!” bisik Kiki.
“Nyontek aja yang lo pikirin!” sahut Rei. Mendadak terlintas niat jahil di otak cewek itu. “He, cowok! Siapa tadi nama kamu?” tanyanya pura-pura lupa.
Cowok yang baru menjadi penghuni 2A itu menoleh ke arah Rei. Dan tersenyum. “Nama saya Bebe Kusuma Aditama.”
Rei balas tersenyum. Lalu ia mengacungkan tangan. “Pak, boleh tanya?”
“Ya, ada pertanyaan apa?”
“Apakah nama seseorang bisa disingkat?”
“Tentu saja bisa. Memangnya mengapa?”
“Bebe Kusuma Aditama terlalu panjang. Singkat saja menjadi Bebe K. Kalau dibaca jadi apa, teman-teman?”
“Bebek!!!” jawab yang lain serempak, kompak.
“Nah, bagaimana? Setuju, Pak?”
Pak Narto geleng-geleng kepala. Muridnya satu ini memang badung. “Sudahlah, Rei. Dia itu teman barumu,” ujar guru itu. Rei meringis.
Bebe tertunduk malu. Tengsin benar dia! Masa dijului Bebek? Rei jadi kasihan. Dengan pelan ditepuknya pundak cowom itu. “Sori, gue cuma becanda. Tapi senyum kamu tadi boleh juga, lho!” ujar Rei sambil tersenyum nakal. Muka Bebe makin memerah.

Dengan langkah ringan Rei menapaki lantai rumahnya. Langkahnya terhenti begitu mendengar panggilan mamanya.
“Rei, sini sebentar. Mama mau bicara.”
Dengan enggan Rei berbalik menghadap mamanya dan menghempaskan pantat di sofa yang empuk.
“Ada apaan sih, Ma? Rei lagi capek, nih!”
“Begini, Mama cuma ingin mengatakan kalau kakakmu akan bersekolah di sini.” Mama Rei terdiam sesaat. “Sudah lima belas tahun kalian berpisah. Sekarang saatnya kalian berkumpul kembali.” Wanita yang masih terlihat muda di usia 40-an itu menghela napas.
Rei cuma manggut-manggut.
“Sejak pisah lima belas tahun silam, kakakmu tidak pernah ke sini lagi. Mama sudah sangat rindu. Mungkin Papamu sekarang bisa lebih bijaksana karena mau mempertemukan kalian berdua.”
Rei makin manggut-manggut.
“Kamu masih ingat wajahnya? Rei, dengar Mama nggak?”
Rei terhenyak. “Ah, sudah lupa! Namanya aja Rei nggak ingat. Mama kan, nggak mau menyebut nama Papa dan kakak di rumah ini lagi!”
“Mama mengerti. Kakakmu juga mungkin sudah lupa adiknya sendiri.”
“Udahlah, Ma! Rei mau tidur, nih!” Rei beranjak meninggalkan mamanya. Dia sampai lupa menanyakan nama kakaknya. Keterlaluan memang! Sebenarnya Rei senang kakaknya kembali. Tapi kalau cewek itu sudah ngantuk, semangat ‘45-nya langsung down, meski beritanya mengguncang dunia.
“Ki, si Bebek udah datang?” tanta Rei begitu sampai di kelas keesokan harinya.
“Kayaknya udah tuh! Cari aja di samping kelas!” jawab Kiki dengan cuek. Cewek itu sedang menyalin PR Biologi. Rei langsung menuju samping kelas. Dilihatnya seorang cowok sedang duduk sendirian. Sepertinya sedang membaca kamus Bahasa Inggris.
“Heh, Bebek!”
Cowok itu terkejut bukan main. Kacamatanya sampai melorot ke ujung hidungnya yang mancung. “Ya, ada apa?” tanya Bebe sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Pinjem PR Kimia, dong!”
Bebe tidak bereaksi.
“Jangan pelit, ya?! Atau kamu mau ngerasain bogem mentahku ini?” kata Rei pura-pura mengancam. Bebe jadi agak keder juga. Diambilnya sebuah buku dari dalam tasnya.
“Thanks ya, Bebek!” seru Rei dengan gembira karena hari ini ia akan terbebas dari hukuman.
“Baik, Anak-anak. Bapak sudah membaca karangan kalian. Semua bagus-bagus,” kata pak Totok. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. “Tapi Bapak sudah memilih satu yang terbaik yaitu karya… Bebe Kusuma Aditama!”
Plok! Plok! Plok!
Tepuk tangan bergema seiring langkah Bebe yang maju ke depan kelas untuk membaca karangannya. Bebe membaca karangannya yang mengangkat topik ‘Mapras dan Perploncoan di Kalangan Siswa SMU’.
“… Masa-masa perkenalan sekolah itu adalah masa yang paling indah. Terlebih lagi bagi kita, para remaja. Saat-saat di mana kita merasa senasib, karena pada prinsipnya…”
“Cowok matre! Cowok matre!!” potong Rei dan Kiki meniru gaya Padhyangan 6. Kontan semua anak tertawa mendengar kekonyolan mereka.
Bebe hanya tertunduk malu di depan kelas. Sedangkan pak Totok sibuk menenangkan anak-anak yang gaduh itu.
Rei Cs berkumpul di kantin sekolah. mereka sedang asyik ngegosipin si anak baru. Siapa lagi kalau bukan si Bebe!
“Si Bebek itu ternyata kuper, ya!” komentar Dewi.
"He-eh. Rugi deh, kalo’ kita punya cowok macam dia!’ timpal Kiki.
“Nggak kuat, bok!”
“Tapi kalau gue perhatiin, wajah si Bebek mirip dengan Rei, ya?” celetuk Kiki.
Rei terkejut mendengar itu. Doi sampai tersedak. “Apanya?” tanyanya.
“Itu, lho! Hidung mancungnya sama bibirnya yang tipis!” sahut Kiki memberi bukti.
Rei hanya bungkam. Ngapain juga gue disamain kayak si Bebek itu! Dasar Bebek! gerutu Rei panjang pendek.
“Aku pulang!!” Rei membuka pintu depan dan langsung masuk. Tapi kakinya terasa berat melangkah begitu melihat orang yang duduk di sofa ruang tamunya. Mamanya pun ada di sana. Mulut Rei ternganga saking herannya. Apa-apaan ini?
Begitu sadar Rei langsung menyeret mamanya ke ruang makan. Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu. “Ma, ngapain orang itu di sini? Dia kenalan Mama, ya?” todong Rei tanpa ampun.
Mamanya tersenyum bijak. “Rei, dialah orang yang Mama maksud. Dia kakakmu, Rei! Kakak kandungmu yang lima belas tahun silam pernah tinggal di rumah ini. Namanya Bebe Kusuma Aditama!”
Rei merasa jumpalitan. Dia merasa sudah tidak menginjak bumi lagi. Tidak tahu harus bicara apa.
“Sebentar lagi temui Mama, ya! Kita ngobrol-ngobrol. Banyak yang ingin Mama bicarakan dengan kalian,” lanjut mama Rei. Kemudian wanita itu berlalu setelah meninggalkan senyuman untuk Rei.
Rei seakan tidak mendengar permintaan mamanya. Otaknya berputar-putar mencoba mencerna kenyataan di depan matanya. Cowok yang telah dia permalukan di depan semua teman-temannya, cowok yang selama ini dijulukinya si Bebek, ternyata adalah kakaknya sendiri!!!

* * *

Koran Pelajar Wiyata Mandala no. 109/ 1997