“AKU mau ditunangkan!!“
“Apa?!“ Ina melotot saking kagetnya. “Nggak salah denger, kan?! Di jaman kuda makan hamburger gini masih ada juga? Sama siapa lo?“ berondong cewek berkacamata minus itu.
Rossa meringis. “Sama anak tante Yani, Praha… “
“Tante Yani? Ooo, yang punya usaha cateringan itu, yah?! Gue kira dia nggak punya anak… “
“Praha lagi studi di Amsterdam, jarang pulang.“ Rossa menarik napas dalam. “Begitu tau aku mau ditunangkan, rasanya game over, deh! Aku pikir yang begituan cuma ada di roman picisan, eh… taunya aku sendiri yang mengalaminya.“ Rossa menepuk-nepuk keningnya.
“Kenapa elo nggak nolak?“
“Ih, boro-boro mau nolak! Dengar ucapan mama aja udah merinding. Mama bilang gini, ‘Rossa sayang, ini permintaan Mama yang pertama dan mungkin juga yang terakhir. Jadi jangan kecewain Mama, ya?‘. Nah, siapa yang nggak iba?! Lagipula, bla… bla… bla… “ Rossa nyerocos terus.
Ina termangu. Bukannya konsen ke omongan Rossa, dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tahu, sejak papa Rossa meninggal enam tahun lalu, mama Rossa yang banting tulang buat menghidupi keluarga, dan tante Yani ikut membantu. Mungkin itulah alasan utama kenapa Rossa nggak bisa menolak. Atau mama Rossa sudah ngebet pingin punya momongan, atau… takut putri semata wayangnya jadi perawan tua? Ih, Ina buru-buru menepis pikirannya yang terakhir itu.
“Kenapa, Na? Kamu ngerti omonganku, kan?!“
Ina manggut-manggut bak burung pelatuk sambil nyengir. Anggap aja doski pendengar yang baik. Tiba-tiba Ina ingat sesuatu. “Terus, si Teddy mau elo kemanain?“
Rossa mencibir. “Ada hubungan apa aku sama si jelek itu? Dia aja yang kege-eran. Lagian, doi udah out of date, tuh! Kalo’ kamu mau, ambil aja! Cintrongnya aku transfer ke kamu, deh!“
Ina melongo.
Edan ini anak! Cinta mau ditransfer? O’o, mungkin tahun ini terlalu canggih dan siapa tau cinta itu nanti bisa dikirim lewat fax atau e-mail, yah?! Ina segera sadar kalau mulutnya terbuka dari tadi. Maka sebelum segala sesuatu dan lain hal masuk tanpa permisi, Ina segera menutupnya.
“Sejak SMP kami nggak pernah ketemu lagi. Tante Yani pernah pindah ke Bandung dan pas balik ke sini, ternyata Praha udah diekspor ke Belanda, tinggal sama omanya!“ papar Rossa tanpa diminta.
“Ngomong-ngomong, cakep nggak anaknya?“ tanya Ina.
Rossa merogoh saku kemejanya, mengambil foto ukuran postcard. Diangsurkannya ke depan hidung sahabatnya itu.
“Nih, baru keluar dari kamar gelap!“
Ina membelalak tak percaya. “Ini?! Gila, produk macam gini mah, keluarnya sepuluh taon sekali, cing!“
Nah, lo! Bisa nggak ngebayangin gimana tampangnya si Praha?
Rossa senyum-senyum. “Naksir nih, ceritanya?“
“Hemm, pantesan elo setuju aja. Kucing mana yang nggak mau ikan asin. Tampang super kiyut gini nggak bakalan ada yang nolak!“ kata Ina sambil garuk-garuk kepala. Kacamatanya sampai melorot ke ujung hidung.
Rossa menggebrak pintu dengan tenaga Rambo. Ina yang sedang menggantung baju di balik pintu langsung terjengkang dengan sukses.
“Hoi, ketok pintu dulu, kek! Main serobot rumah orang!“ umpat Ina seraya mengelus-elus jidatnya yang benjol kena kaki meja. “Ada apa? Pagi-pagi udah bertamu. Katanya elo ada kencan sama tunangan elo itu. Perang Dunia ketiga, ya?“
“Aku sebel! Sekali sebel, tetep sebbbeeelll!!!“ lengking Rossa hampir tujuh oktaf. Buru-buru Ina membungkam mulut cewek itu sebelum digerebek orang sekampung. Dikira ada apaan pakai acara jejeritan segala.
“Sebel kenapa? Praha asli lain banget dengan fotonya?“
Rossa menggeleng.
“Praha nggak kenal elo?“
“Bukan itu!“ sanggah Rossa sengit.
“Lalu, apa? Praha menolak dijodohin ama elo?“
“Salah semua! Praha itu… dia… “ Rossa mengatur naik turun dadanya. “Praha itu… dia… banci!!“
Ina terdiam. Rossa apalagi. Pelan Ina meraba kening sahabat karibnya itu, mungkin aja kesambet jin daerah mana sehingga omongannya agak kacau. Rossa menepiskannya dengan sewot.
“Aku normal! Nggak kesambet jin atau kucing!“
“Terus?“
Rossa menghela napas berat, seberat-beratnya. “Aku bilang Praha banci ya, banci! Aku hampir semaput begitu mendengar cara dia ngomong. Genit banget! Kamu tau dia ngomong apa?“
Ina jelas saja menatap bingung.
“Doi bilang, ‘Aih, ik surprise deh, liat you! Ik nggak nyangka ternyata you secantik ini!‘. Aku kaget setengah mampus. Ini Praha apa Pretty Woman? Kalau saja di situ nggak ada mama, pasti sudah kugaplok mulutnya. Mual aku mendengar suara itu!“
Ina menunggu sampai Rossa menyelesaikan laporannya.
“Terpaksa aku mau diajak keluar sama dia. Ih, pas aku perhatiin jalannya, Na! Lebih feminim dari aku! Pantatku aja nggak egal-egol, tapi dia… hhh!“ Rossa menggerutu panjang pendek sampai wajahnya memerah.
“Elo nggak nanya kenapa dia mau ditunangkan ama elo?“
Rossa mengangguk. “Ya. Aku udah nanya gitu. Tau jawabannya? Gini, ‘Sejak pertama liat you di foto, ik sudah fall in love sama you. So, ik oke-oke aja dijodohin ama you!‘. Bete, nggak?!“ jawab Rossa.
“Wah, wah, love at the first sight, nih! Gue kalah, deh!“
“Masa’ tunanganku bencong, Na? Kamu tolongin aku, dong!“ Rossa mulai merengek.
“Yah, harus gimana lagi? Dia juga nggak pengen dilahirkan kayak gitu, kan? Elo berdoa aja biar ada keajaiban dari sana!“ Ina menunjuk ke atas. “There can be miracle, when you believe…, “ senandungnya.
“Tapi… tapi dulu Praha nggak begitu, kok!“ sangkal Rossa pelan.
Ina hanya angkat bahu. Lalu gadis itu ngeloyor pergi.
“Mau ke mana, Na? Tolong, kek!“
Sambil jalan Ina menyahut, “gue mau semedi dulu. Perut gue mendadak sakit denger cerita elo!“ Kemudian ditutupnya pintu WC dengan keras.
Tinggallah Rossa yang menyumpah-nyumpah sendiri.
Rossa terpaku di tempat duduknya, sementara tante Yani terisak lirih menahan tangis. Sedangkan mama Rossa sibuk menarik tissue dari untuk diberikan ke tante Yani.
“Tante nggak menyangka bakalan begini, Ros. Maafkan Tante, ya?!“ kata tante Yani di sela isak tangisnya.
“Sudahlah, Yan. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri,“ hibur mama Rossa dengan sabar.
“Saya merasa terpukul, Mbak. Saya tidak pernah mengira kalau Praha akan tumbuh menjadi… “
Bencong, cetus Rossa dalam hati.
“Ah, saya malu, malu sekali, Mbak! Mungkin ibu terlalu memanjakan dia. Jiwanya menjadi lembek dan feminim begitu, Mbak!“
Mama Rossa hanya menepuk-nepuk bahu tante Yani.
“Rossa bisa mengerti perasaan Tante. Jangan menyalahkan siapa-siapa. Jika Tuhan mengijinkan, Praha pasti sembuh, eh… berubah. Dia perlu dukungan dari orang-orang yang mencintainya, Tan… “
Tante Yani menatap gadis di depannya itu dengan kagum. Sungguh ia kagum dengan kelapangan hati Rossa yang mau menerima apa adanya.
Sumur dapat diukur dalamnya, tapi tidak isi hati orang. Rossa berkali-kali mengumpat. Kenapa aku bisa ngomong macam gitu, yah?! Udah gila, apa? Padahal tujuh turunan pun aku nggak mau bermimpi punya calon suami banci. Rasanya mission impossible bisa merubahnya menjadi manusia normal lagi. Rossa menggerutu panjang pendek.
Dan Rossa hanya tersenyum kecut ketika tante Yani memeluknya dengan penuh haru. Oh, Tuhan, inikah jalan hidup yang Engkau berikan untukku? Ah, nasib, nasib…
Suitan-suitan panjang berkumandang saat Rossa keluar dari mobil itu, Charade merah mengkilap yang dikemudikan Praha. Ini bukan yang pertama Rossa diantar jemput oleh tunangannya itu. Mungkin yang ke sepuluh kalinya. Tapi tetap saja menjadi pusat perhatian.
Berpuluh pasang mata mengamati mereka. Entah mengamati mobil Praha yang memang keluaran anyar atau mengamati pasangan baru itu, Rossa dan Praha. Yang jelas satu yang dirasakan Rossa, risih dan keki.
“Sampai di sini saja, ya? Kamu nggak usah ikut ke dalam, Pra, “ pinta Rossa menahan malu.
“Why? Biasanya ik juga ikut masuk. Ik cuma ingin memastikan kalau you sampai di kelas dengan selamat,“ kata Praha dengan sopan.
Namun bagi Rossa, sangat menyebalkan
“Selamat? Ini, apa namanya?! Kakiku masih ada dua, mata juga nggak bolong! Memangnya di dalam sana ada teroris kesasar?! “ sergah Rossa ketus.
Tiba-tiba Teddy melintas dengan sepeda motor bututnya. Di depan Praha ia berhenti. “Ros, kalau mau adu mulut, jangan di sini. Malu tuh, diliatin anak-anak lain!“ celetuknya. “Eh, gandengan baru elo, ya? Boleh juga, sayang… “ Teddy mengulum senyum nakal.
Rossa mendelik sewot. “Kamu jangan ikut campur urusan dalam negeri orang, ya?! Sana, masuk! Reseh!“
Teddy langsung mingkem dan menuntun sepedanya ke pelataran parkir. Sementara Rossa bergegas masuk gerbang sekolah. Praha yang merasa digratisin nekat mengejar. Rossa melebarkan langkahnya.
“Ros, tunggu ik, dong!“
“Aih, aih, rupanya Romeo sedang mengejar Juliet, nih! Hei, larinya yang gagah, dong!“ seru cewek berbuntut kuda. “Yap, Sodara-sodara! Saksikanlah, kejar-kejaran paling mendebarkan abad ini! Pemain nomor punggung 0 mengejar pemain nomor 1! Oke, penonton harap tenang, karena ini bukan WCW! Ya, tinggal selangkah lagi dan… dapat!!“
Praha mencekal pergelangan tangan Rossa.
“Aku malu, Pra. Kamu pulang aja sebelum ada masalah di sini,“ pinta Rossa lemah.
“Kenapa, sih? Dari kemarin kamu ketus padaku? Apa tindakanku ada yang salah?!“
Rossa terperangah. Itu tadi suara siapa, yah? Praha?! Belum tuntas keheranan Rossa pada makhluk hidup kece itu, Teddy nongol lagi dengan cengar-cengirnya.
“Ros, nggak salah pilih, nih? Cowok macam beginian kamu bawa-bawa ke sekolah. Jangan ngejatuhin kredibilitas sekolah kita, dong! Masa’ kamu cuek sama aku cuma demi cowok model begini? Nggak level, ah!“ cerocos Teddy bak petasan renteng.
Wajah Praha yang biasanya setenang air danau, sekarang mulai menegang. Apalagi ketika dilihatnya Teddy menggandeng tangan Rossa dan mengajaknya pergi dari situ.
“Kamu bilang apa tadi?! Jaga mulut dan kelakuan kamu itu!“ bentak Praha gagah.
Rossa semakin takjub dan tidak bisa berucap apa-apa. Hanya matanya yang bergerak-gerak tak berkedip. Inikah Praha yang sebenarnya? Lalu banci itu…?
“Memang kenapa kalau gue ngomong begitu? Elo merasa tersinggung, ya? Dasar elo banci!“ tantang Teddy berani. “Egal-egol pantat bebek, si bencong merengek-rengek!“
Yang mendengar ejekan itu kontan tertawa riuh. Mereka seolah-olah sedang menonton permainan badut pasar malam. Dan Praha sebagai badutnya.
Akhirnya Praha tidak tahan lagi. Dengan sekali hentak ditariknya krah baju Teddy. “Coba katakan sekali lagi, kalau kamu berani!“ desisnya marah.
“Egal-ego, pantat beb… “
BUG! BUG! BUG!
Belum tuntas kata-kata itu meluncur, tiga bogem mentah sudah membungkam mulut Teddy. Cowok tengil itu langsung tersungkur mencium ibu pertiwi. Tapi dengan cepat ia bangkit dan membalas. Praha tidak sempat menghindar. Sebuah pukulan mampir di rahang kirinya. Sudut bibirnya pecah dan berdarah. Kamu hawa menjerit ngeri.
Suasana pagi semakin riuh. Perkelahian itu bukan milik mereka lagi.
“Aaaa, pelan-pelan… “
Praha mengerang lirih saat bongkahan es itu menyentuh pipinya. Nyerinya luar biasa dan meninggalkan bekas membiru. Praha memejamkan mata mencoba meresapi kesejukan yang merayapi tubuhnya.
“Kamu puas kan, Ros? Aku sudah dihina habis-habisan di depan semua teman sekolahmu!“
Rossa tidak menjawab. Hanya tangannya yang bekerja. Dengan lembut dikompresnya luka-luka Praha.
“Kok, diam, Ros?“
Rossa mengangkat wajahnya. Matanya beradu dengan mata elang Praha yang juga menatapnya lekat. Buru-buru Rossa berpaling sebelum ketahuan kalau wajahnya memerah.
“Aku tidak tahu kalau kamu hanya pura-pura… “
Praha tertawa renyah. “Yeah, memang aku juga yang salah, nggak bisa menahan emosi. Padahal seperti itulah resikonya. Bulan depan teater sekolahku akan mengadakan pertunjukan drama dan aku kebagian peran banci,“ jelas Praha.
“Dan kamu sudah berhasil menipu semua orang, termasuk mamamu!“ kata Rossa geli. Ia jadi ingat saat pertama cowok itu menyapanya dengan gaya… ah, Rossa jadi ingin tertawa kalau mengingatnya.
“Kamu masih marah padaku, Ros?“
Rossa menatap Praha, mencoba menentang tajam mata itu. Kenapa aku harus marah, pikirnya. Bukankah ini anugerah terindah yang sudah Ia berikan untukku?
Praha mengubah posisi duduknya. Kini ia bisa leluasa menikmati bias-bias merah yang menjalari wajah Rossa.
“Jangan memandang aku begitu, ah!“ tegur Rossa.
“Kenapa? Malu?“ Praha tersenyum kecil. “Kamu pernah pacaran?“
Rossa mengangguk pelan.
“Jatuh cinta sering, dong?“
“Ah, nggak juga. Aku orangnya susah jatuh cinta!“
Praha meremas jemari tangan Rossa. Rossa tidak mengelak. Ia membiarkan hatinya ikut terbawa suasana romantis itu. Membiarkan sesuatu yang baru merambati relung-relung hatinya.
“Susah juga untukku? Aku mencintai kamu, Ros. Sejak dulu aku sudah bertekad kalau kamu harus jadi milikku,“ bisik Praha.
Praha mengecup lembut kening Rossa. Hangat. Rossa merasakan gemuruh yang kuat memukul-mukul pintu hatinya. Cinta Praha menunggu pintu itu dibuka.
“Aku juga, Pra… “
Dan pintu itu pun terbuka.
* * *
Pemenang III Lomba Cipta Cerpen se-Bali dan Nusa Tenggara Tingkat Pelajar Theater Angin SMU I Denpasar/ 1998